IHSG Terus Melemah dan Mendekati Level 7.000 di Tengah Tekanan Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan tren pelemahan hingga perdagangan Senin, 16 Maret 2026, dengan akumulasi penurunan mencapai 15,04% dalam sebulan terakhir. Tekanan yang berkelanjutan ini mendorong indeks semakin dekat ke level psikologis 7.000.
Pada penutupan perdagangan, IHSG turun 1,61% atau 114,92 poin ke posisi 7.022,28. Indeks dibuka di level 7.115,45 dan sempat menyentuh level tertinggi 7.120,18 sebelum akhirnya melemah hingga akhir sesi. Sepanjang hari, hanya 180 saham yang menguat, sementara 542 saham melemah dan 98 saham bergerak stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat berada di level Rp12.439 triliun.
Saham Big Caps Menekan Pergerakan IHSG Sepanjang Sesi
Tekanan terhadap IHSG tidak terlepas dari pelemahan saham berkapitalisasi besar. Saham PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) turun 8,89% ke Rp4.510, sedangkan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) terkoreksi 8,03% menjadi Rp61.550.
Di sisi lain, beberapa saham masih mampu mencatatkan penguatan terbatas. Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) naik 1,89% ke Rp4.320, sementara PT Astra International Tbk. (ASII) menguat 0,43% ke Rp5.850.
Analis Menyoroti Ketegangan AS-Iran sebagai Pemicu Utama
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Hari Rachmansyah menyebut ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang menekan pasar. Konflik tersebut memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara.
Kenaikan harga energi kemudian meningkatkan kekhawatiran terhadap tekanan inflasi global. Selain itu, kondisi ini juga membuka peluang kebijakan moneter global yang lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama.
Investor Global Mengadopsi Sikap Risk-Off dan Tekan Pasar
Dalam kondisi ketidakpastian yang tinggi, investor global cenderung menghindari risiko dan beralih ke aset yang lebih aman. Sikap risk-off ini membuat volatilitas pasar saham tetap tinggi, baik di dalam negeri maupun global.
Hari Rachmansyah melihat tekanan juga terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks utama seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih berada dalam tren pelemahan, seiring kontrak futures yang terus bergerak negatif.
Kebijakan Fiskal Domestik Ikut Mempengaruhi Sentimen Pasar
Selain faktor global, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah Indonesia. Kementerian Keuangan mulai mempertimbangkan penyesuaian belanja negara untuk menjaga defisit APBN tetap di bawah batas 3% terhadap produk domestik bruto.
Jika defisit melebar, risiko yang muncul antara lain peningkatan kebutuhan pembiayaan utang, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar rupiah akibat meningkatnya persepsi risiko investor.
Kombinasi antara tekanan global dan kehati-hatian kebijakan domestik tersebut membuat investor memilih untuk menahan posisi, sehingga IHSG terus bergerak dalam tren melemah dalam jangka pendek.
