Okupansi Hotel Meningkat Saat Lebaran tetapi Saham Hospitality Tetap Lesu

Momentum Ramadan hingga Lebaran mendorong lonjakan aktivitas pariwisata dan tingkat hunian hotel di berbagai daerah. Namun, peningkatan kinerja operasional tersebut tidak otomatis tercermin pada pergerakan saham sektor hospitality di Bursa Efek Indonesia.
Pada Rabu, 18 Maret 2026, fenomena ini kembali terlihat ketika saham-saham hotel dan pariwisata justru kurang diminati investor meski okupansi meningkat. Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan antara kinerja riil industri dengan respons pasar modal.
Analis Menilai Likuiditas Rendah Membatasi Daya Tarik Saham Hotel
Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menegaskan bahwa saham sektor hospitality belum mampu menjadi tema utama dalam perdagangan, bahkan saat periode Lebaran. Ia menyebut rendahnya likuiditas menjadi kendala utama yang menghambat minat investor.
Menurutnya, banyak emiten hotel di Indonesia memiliki kapitalisasi pasar yang relatif kecil dengan jumlah saham beredar yang terbatas. Akibatnya, pergerakan harga saham cenderung tidak signifikan meskipun kinerja bisnis meningkat selama musim liburan.
Investor Mengalihkan Dana ke Saham Lebih Likuid dan Defensif
Di tengah kondisi pasar yang dipengaruhi sentimen global dan kenaikan harga energi, investor memilih mengalihkan dana ke saham yang lebih likuid. Selain itu, mereka juga cenderung memburu saham defensif yang dianggap lebih stabil.
Liza menjelaskan bahwa investor saat ini lebih berhati-hati terhadap saham berkapitalisasi kecil. Oleh karena itu, sektor hospitality yang didominasi emiten skala kecil sulit menarik perhatian sebagai instrumen trading musiman.
Saham Konsumsi dan Pengelola Mal Justru Menarik Minat Pasar
Alih-alih memilih saham hotel, investor lebih tertarik pada emiten yang berkaitan dengan konsumsi dan pusat perbelanjaan. Saham-saham tersebut dinilai lebih diuntungkan dari lonjakan mobilitas masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran.
Selain itu, saham pengelola mal memiliki likuiditas lebih tinggi sehingga lebih mudah diperdagangkan dalam volume besar. Kondisi ini membuat sektor tersebut lebih relevan sebagai pilihan investasi jangka pendek dibandingkan saham hotel murni.
Faktor Makro Lebih Mempengaruhi Arah Sektor Properti
Lebih lanjut, Liza menilai pergerakan sektor properti di pasar saham tetap bergantung pada faktor makroekonomi. Ia menekankan bahwa suku bunga, stabilitas nilai tukar rupiah, serta dinamika global memiliki pengaruh yang jauh lebih besar dibandingkan faktor musiman seperti Lebaran.
Dengan demikian, peluang sektor hospitality untuk mendorong kinerja indeks properti pada Ramadan tahun ini dinilai terbatas. Pasar tetap bergerak mengikuti sentimen global yang lebih dominan dibandingkan peningkatan aktivitas pariwisata domestik.
