Saham BMRI Tawarkan Valuasi Murah dan Potensi Diserok Investor

Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menunjukkan valuasi yang semakin menarik di tengah koreksi harga dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat saham BMRI berpotensi terus dilirik dan dikoleksi investor, seiring fundamental perusahaan yang tetap solid.
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas per Rabu, 18 Maret 2026, rasio price to earnings (PE) BMRI secara trailing twelve months (TTM) berada di level 7,8 kali. Angka ini tergolong rendah untuk emiten perbankan besar, sehingga mencerminkan valuasi yang relatif murah.
Pergerakan Harga BMRI Mengalami Koreksi dalam Jangka Pendek
Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, saham BMRI ditutup menguat 0,6% ke level Rp 4.730. Namun, dalam sepekan terakhir saham ini masih terkoreksi 3,6% dan dalam sebulan melemah 6,8%.
Selain itu, secara year to date (ytd), saham BMRI telah turun 7,25%. Koreksi ini membuka peluang bagi investor untuk masuk di harga yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.
Bank Mandiri Menyiapkan Buyback Saham untuk Menjaga Stabilitas Harga
Bank Mandiri merencanakan aksi buyback saham dengan alokasi dana hingga Rp 1,17 triliun. Perseroan akan melaksanakan program ini setelah mendapatkan persetujuan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 29 April 2026.
Pelaksanaan buyback dijadwalkan berlangsung mulai 30 April 2026 hingga 29 April 2027. Langkah ini bertujuan menjaga stabilitas harga saham sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek perusahaan.
Bank Mandiri Mencatat Pertumbuhan Kredit dan Dana Pihak Ketiga yang Kuat
Dari sisi kinerja, Bank Mandiri terus menunjukkan pertumbuhan bisnis yang solid. Hingga Februari 2026, perseroan menyalurkan kredit sebesar Rp 1.513,1 triliun atau tumbuh 15,7% secara tahunan.
Selain itu, dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp 1.644,8 triliun atau meningkat 16,3% secara tahunan. Pertumbuhan ini menunjukkan kemampuan Bank Mandiri dalam menjaga ekspansi bisnis sekaligus memperkuat basis pendanaan.
Bank Mandiri Meningkatkan Laba Berkat Akselerasi Layanan Digital
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menyatakan bahwa kinerja positif perusahaan didorong oleh meningkatnya aktivitas transaksi nasabah, terutama melalui layanan digital.
Hingga Februari 2026, Bank Mandiri mencatat laba bersih sebesar Rp 8,9 triliun atau tumbuh 16,7% secara tahunan. Peningkatan ini sejalan dengan pertumbuhan transaksi melalui platform Livin’ by Mandiri yang turut mendorong pendapatan berbasis komisi.
Dengan fundamental yang kuat dan valuasi yang menarik, saham BMRI berpotensi terus menjadi incaran investor di tengah dinamika pasar.
