Investor Bandingkan Kinerja Saham McDonald’s dan Starbucks dalam 10 Tahun Terakhir
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2805198/original/073462800_1557825616-mc.jpg)
Investor global terus membandingkan kinerja saham McDonald’s (MCD) dan Starbucks (SBUX) sebagai dua raksasa sektor konsumsi. Dalam satu dekade terakhir, kedua emiten ini menunjukkan perbedaan performa yang cukup mencolok, meski sama-sama memberikan keuntungan jangka panjang.
Data terbaru pada Rabu, 18 Maret 2026, menunjukkan McDonald’s mencatat pertumbuhan lebih stabil berkat strategi bisnis berbasis waralaba. Perusahaan ini juga memperkuat daya tarik melalui menu terjangkau dan program loyalitas yang menghasilkan sekitar USD 37 miliar penjualan tahunan.
Sebaliknya, Starbucks sempat menikmati lonjakan kinerja pascapandemi. Namun, perusahaan menghadapi tekanan setelah pelanggan menjadi lebih sensitif terhadap harga, sehingga berdampak pada penurunan kunjungan.
McDonald’s Jalankan Strategi Stabil Sementara Starbucks Lakukan Transformasi Bisnis
McDonald’s menjalankan strategi “Accelerating the Arches” untuk menjaga pertumbuhan bisnis secara konsisten. Strategi ini menekankan efisiensi operasional serta harga yang kompetitif sehingga tetap menarik bagi konsumen.
Di sisi lain, Starbucks menghadapi tantangan dalam mempertahankan posisi sebagai brand premium. Perusahaan bahkan mengganti CEO pada akhir 2024 dan menutup 627 gerai yang tidak berkinerja optimal.
Saat ini, CEO baru Brian Niccol mendorong pemulihan melalui strategi “Back to Starbucks”. Langkah tersebut bertujuan mengembalikan daya tarik merek sekaligus meningkatkan kinerja operasional.
Investasi McDonald’s Hasilkan Imbal Lebih Tinggi Dibanding Starbucks
Perbandingan investasi menunjukkan perbedaan signifikan dalam jangka waktu tertentu. Jika investor menanamkan dana USD 1.000 atau sekitar Rp 16 juta, hasil yang diperoleh dari kedua saham ini berbeda cukup jauh.
Dalam satu tahun terakhir, investasi di McDonald’s tumbuh menjadi USD 1.112 atau naik 11,2%. Sementara itu, Starbucks hanya meningkat menjadi USD 1.025 atau 2,5%, jauh di bawah kenaikan indeks S&P 500 sebesar 18,9%.
Dalam lima tahun, McDonald’s menghasilkan imbal 63,3% hingga mencapai USD 1.633. Sebaliknya, Starbucks cenderung stagnan dengan nilai USD 994 atau turun tipis 0,6%.
Namun dalam jangka 10 tahun, kedua saham tetap mencatat keuntungan. McDonald’s melonjak menjadi USD 3.352 atau naik 235,2%, sedangkan Starbucks mencapai USD 2.024 atau tumbuh 102,4%.
Starbucks Mulai Tunjukkan Pemulihan Meski Valuasi Masih Tinggi
Meski tertinggal dalam jangka panjang, Starbucks mulai menunjukkan tanda pemulihan pada 2026. Sahamnya naik 16,93% sepanjang tahun berjalan, melampaui kenaikan McDonald’s sebesar 7,48%.
Secara fundamental, McDonald’s tetap unggul dengan dividen sekitar 2,2% dan arus kas bebas mencapai USD 7,18 miliar pada 2025. Program loyalitasnya juga mencatat sekitar 210 juta pengguna aktif.
Sementara itu, Starbucks memiliki valuasi lebih tinggi di kisaran 81 kali laba, mencerminkan ekspektasi besar terhadap pemulihan kinerja. Perusahaan juga masih menanggung biaya restrukturisasi, meski mulai mencatat pertumbuhan transaksi positif di Amerika Serikat setelah delapan kuartal.
Selain itu, Starbucks menyiapkan kerja sama strategis di China bersama Boyu Capital yang ditargetkan rampung pada 2026. Langkah ini diharapkan memperkuat ekspansi dan mempercepat pemulihan bisnis.
