IHSG Menghadapi Tekanan Awal 2026 dan Analis Menilai Peluang Menuju Level 9.000
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4883222/original/037561100_1720093648-20240704-IHSG-ANG_3.jpg)
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan sepanjang kuartal I 2026 akibat sentimen global, terutama ketegangan geopolitik yang memengaruhi pergerakan pasar. Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan IHSG turun 17,81% ke level 7.106,83 pada penutupan Selasa, 17 Maret 2026.
Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar bersikap hati-hati. Namun demikian, sejumlah analis tetap melihat peluang perbaikan IHSG pada paruh kedua tahun ini jika berbagai faktor pendukung mulai membaik.
Analis Memproyeksikan IHSG Sulit Menguat pada Semester Pertama 2026
COO Bareksa Ni Putu Kurniasari menilai IHSG masih menghadapi ketidakpastian pada semester I 2026. Ia menegaskan bahwa tidak hanya kebijakan fiskal yang menjadi perhatian investor, tetapi juga dinamika geopolitik global, khususnya konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan bahwa pasar masih dipenuhi tanda tanya pada awal tahun. Namun, ia memperkirakan kondisi dapat berbalik lebih positif pada semester II jika kebijakan fiskal pemerintah mendapat respons baik dari investor dan konflik global mulai mereda.
Selain itu, ia melihat perbaikan kinerja keuangan emiten dapat menjadi katalis penting. Ia juga menyoroti posisi suku bunga yang relatif rendah sebagai faktor yang berpotensi mendorong pergerakan IHSG ke arah yang lebih baik.
Sektor Perbankan Berpotensi Menjadi Penopang Utama IHSG
Ni Putu Kurniasari menilai sektor perbankan memiliki peluang besar untuk menopang IHSG. Ia menyebut valuasi saham perbankan masih tergolong murah, sehingga menarik bagi investor.
Ia menambahkan bahwa saham perbankan menawarkan imbal hasil dividen sekitar 8% hingga 9%. Kondisi tersebut membuat sektor ini dinilai masih tertinggal, tetapi berpotensi pulih lebih cepat ketika sentimen pasar membaik.
Selain perbankan, ia juga melihat sektor energi dan komoditas emas sebagai penopang penting. Kenaikan harga komoditas dan kebutuhan energi global dinilai dapat memberikan dorongan tambahan bagi pasar saham domestik.
IHSG Menguat Jelang Libur Panjang Meski Tekanan Masih Membayangi
Sebelumnya, IHSG sempat menunjukkan penguatan menjelang libur panjang Nyepi dan Lebaran 2026. Pada perdagangan Selasa, 17 Maret 2026, IHSG naik 1,2% ke level 7.106,83.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menyatakan bahwa penguatan ini mencerminkan potensi rebound jangka pendek setelah koreksi yang cukup dalam. Ia juga menilai faktor global mulai menunjukkan perbaikan, termasuk turunnya harga minyak setelah Iran membuka Selat Hormuz untuk beberapa negara.
Dari dalam negeri, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS serta keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga di level 4,75% turut mendukung pergerakan IHSG.
Secara keseluruhan, seluruh sektor saham mencatat kenaikan pada perdagangan tersebut, dengan sektor basic, infrastruktur, dan transportasi menjadi pendorong utama penguatan indeks.
