IHSG Menguat pada Sesi I dan Sentuh Level 7.150 Didukung Surplus Neraca Dagang

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada sesi I perdagangan Rabu, 1 April 2026, dengan menembus level 7.150. Kenaikan ini terjadi seiring rilis data neraca perdagangan Indonesia yang kembali mencatat surplus signifikan.
Data perdagangan menunjukkan IHSG naik 1,45 persen atau 102,46 poin ke posisi 7.150,68 hingga pertengahan hari. Sepanjang sesi, indeks bergerak dalam rentang 7.136 hingga 7.207, mencerminkan optimisme pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.
Investor Mendorong Perdagangan Saham dan Angkat Kapitalisasi Pasar
Aktivitas transaksi di bursa meningkat cukup tinggi selama sesi I. Volume perdagangan mencapai 17,37 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp8,64 triliun dan frekuensi lebih dari 1,13 juta kali.
Mayoritas saham mencatat kenaikan dengan 489 saham menguat, sedangkan 196 saham melemah dan 128 saham stagnan. Kondisi ini turut mendorong kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia naik menjadi Rp12.623 triliun.
Saham BBCA, ANTM, BRMS, dan MDKA Menguat dan Topang Indeks
Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi penopang utama penguatan IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 1,16 persen ke level Rp6.525 per saham.
Selain itu, saham sektor tambang menunjukkan performa kuat. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) melonjak 4 persen ke Rp3.640, sementara PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) masing-masing menguat 5,48 persen dan 5,73 persen.
Namun demikian, beberapa saham unggulan justru mengalami tekanan. PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) turun tipis 0,21 persen ke Rp4.710. Saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) melemah 4,66 persen, sedangkan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) terkoreksi 3,10 persen.
BPS Catat Surplus Neraca Dagang Indonesia Selama 70 Bulan Berturut-turut
Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus sebesar US$1,27 miliar pada Februari 2026. Capaian ini memperpanjang tren surplus menjadi 70 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.
Nilai ekspor pada Februari mencapai US$22,17 miliar atau tumbuh 1,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini terutama berasal dari sektor nonmigas seperti lemak dan minyak nabati, nikel, serta mesin dan perlengkapan elektrik.
Di sisi lain, impor tercatat sebesar US$20,89 miliar atau meningkat 10,85 persen secara tahunan. Kenaikan impor didorong oleh sektor nonmigas, meskipun impor migas justru mengalami penurunan signifikan.
Pelaku Pasar Merespons Sentimen Global dan Kebijakan Domestik
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga merespons sentimen global yang semakin kondusif. Harapan meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah mendorong penguatan bursa saham global, yang kemudian berdampak positif ke pasar Indonesia.
Di saat yang sama, pemerintah Indonesia mengambil langkah antisipatif dengan menjaga stabilitas harga energi dan menerapkan kebijakan efisiensi, termasuk skema kerja dari rumah bagi aparatur sipil negara.
Investor kini menantikan sejumlah data ekonomi lanjutan seperti indeks manufaktur PMI dan inflasi untuk menentukan arah pergerakan pasar berikutnya.
