TP Rachmat Kembali Melepas 14,27 Juta Saham ESSA pada Akhir Maret 2026

Konglomerat Theodore Permadi Rachmat atau TP Rachmat kembali melakukan aksi divestasi saham PT Essa Industries Indonesia Tbk. (ESSA) dengan melepas 14,27 juta lembar saham pada 31 Maret 2026. Langkah ini mempertegas strategi pengurangan kepemilikan yang telah dilakukan secara bertahap sepanjang Maret 2026.
Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, TP Rachmat menjual tepatnya 14.277.900 saham ESSA. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan sahamnya turun menjadi 859.930.556 lembar atau setara 4,99% dari sebelumnya 5,07%.
TP Rachmat Mengantongi Dana Segar Sekitar Rp10,8 Miliar dari Transaksi Terbaru
TP Rachmat melakukan penjualan saham pada beberapa level harga untuk memaksimalkan hasil transaksi. Ia melepas 2.649.000 saham di harga Rp755 per lembar, kemudian 1.877.000 saham di harga Rp765 per lembar.
Selanjutnya, ia menjual 3.437.600 saham di harga Rp760 serta 6.314.300 saham di harga Rp750 per lembar. Dari rangkaian transaksi tersebut, TP Rachmat diperkirakan meraup dana segar sekitar Rp10,80 miliar.
TP Rachmat Mempercepat Divestasi Saham ESSA Sepanjang Maret 2026
Aksi penjualan ini bukan yang pertama dilakukan pada bulan yang sama. Sebelumnya, TP Rachmat telah lebih dulu melepas saham ESSA dalam jumlah besar pada 5 Maret dan 26 Maret 2026.
Pada 5 Maret 2026, ia menjual 42,23 juta saham dengan nilai transaksi sekitar Rp32,96 miliar. Kemudian pada 26 Maret 2026, ia kembali melepas 60,82 juta saham senilai sekitar Rp45,87 miliar.
Dengan demikian, total saham yang dilepas sepanjang Maret 2026 mencapai 103,06 juta lembar dengan nilai sekitar Rp78,84 miliar. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan sahamnya sempat berada di level 981,09 juta lembar atau setara 5,69%.
ESSA Mencatat Penurunan Laba Bersih Sepanjang Tahun Buku 2025
Di sisi kinerja keuangan, ESSA membukukan laba bersih sebesar US$40 juta pada 2025. Capaian ini turun sekitar 11% dibandingkan laba tahun sebelumnya yang mencapai US$45 juta.
Penurunan laba tersebut sejalan dengan penurunan pendapatan usaha yang tercatat sebesar US$295 juta atau turun 2% secara tahunan. Perusahaan menghadapi tekanan dari melemahnya harga jual rata-rata komoditas utama.
Harga LPG global turun sekitar 8%, sementara harga amonia terkoreksi sekitar 3,5%. Kondisi ini turut menekan pendapatan meskipun volume pengiriman amonia justru meningkat 3% sepanjang tahun.
ESSA Menjaga Kinerja Operasional di Tengah Tekanan Harga Komoditas
Manajemen ESSA menegaskan bahwa kinerja operasional tetap solid meskipun menghadapi tekanan harga. Perusahaan mengandalkan tingkat keandalan fasilitas produksi untuk menjaga stabilitas operasional.
Presiden Direktur dan CEO ESSA, Kanishk Laroya, menyatakan bahwa fasilitas produksi yang andal mampu menahan dampak penurunan harga terhadap pendapatan. Selain itu, perusahaan juga berhasil menekan beban keuangan sehingga membantu menjaga profitabilitas.
Secara operasional, pabrik LPG ESSA telah beroperasi tanpa gangguan selama lebih dari 6,5 tahun. Sementara itu, pabrik amonia mencatat 9,4 juta jam kerja aman, menunjukkan standar keselamatan yang tinggi.
Ke depan, ESSA berencana melakukan turnaround terjadwal pada pabrik amonia pada kuartal II 2026. Langkah ini bertujuan menjaga keselamatan, efisiensi, serta keberlanjutan operasional dalam jangka panjang.
