BEI Mencabut GMFI dari FCA dan Sahamnya Langsung Tertekan

JAKARTA – Bursa Efek Indonesia (BEI) mencabut saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI) dari papan pemantauan khusus full call auction (FCA) mulai Selasa, 31 Maret 2026. Bursa mengumumkan perubahan itu setelah GMFI memperbaiki posisi ekuitasnya pada laporan keuangan tahun buku 2025.
BEI sebelumnya menempatkan GMFI ke dalam FCA karena perseroan memenuhi kriteria 5, yakni mencatat ekuitas negatif. Namun, laporan keuangan 2025 menunjukkan GMF AeroAsia sudah membukukan ekuitas positif sebesar US$114,5 juta pada akhir Desember 2025. Kondisi itu mendorong Bursa mengakhiri status FCA yang melekat pada saham anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) tersebut.
Meski BEI sudah membuka kembali perdagangan normal, pasar langsung memberi respons negatif. Pada pukul 09.40 WIB, saham GMFI turun 10,39% ke level Rp69. Perdagangan saham ini juga berlangsung sangat aktif dengan volume 1,18 miliar saham, frekuensi 18.736 kali, dan nilai transaksi Rp89,52 miliar. Data Stockbit Sekuritas mencatat investor asing melepas saham GMFI dengan nilai jual bersih Rp18,6 miliar.
GMFI Menguatkan Kinerja Keuangan, tetapi Pasar Masih Menekan Harganya
Secara fundamental, GMF AeroAsia justru mencatat perbaikan kinerja yang solid pada 2025. Perseroan membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$33,94 juta atau setara Rp576,93 miliar, dengan asumsi kurs Rp16.990 per dolar AS. Capaian itu melampaui laba 2024 yang mencapai US$26,90 juta.
GMFI juga memperkuat pendapatan sepanjang tahun lalu. Perseroan mengantongi pendapatan US$491,88 juta pada 31 Desember 2025, naik 16,77% secara tahunan dari US$421,22 juta pada 2024. GMFI mendorong kenaikan itu lewat bisnis reparasi dan overhaul yang melonjak dari US$314,33 juta menjadi US$390,03 juta, serta pendapatan dari bisnis operasi lainnya yang naik dari US$22 juta menjadi US$23,92 juta.
Di sisi lain, segmen perawatan masih menghadapi tekanan. Pendapatan bisnis perawatan GMFI turun menjadi US$77,92 juta pada 2025 dari US$84,80 juta pada tahun sebelumnya. Meski demikian, perseroan tetap menunjukkan pemulihan yang kuat setelah berhasil keluar dari status ekuitas negatif dan memperbaiki struktur keuangannya.
