BEI Dorong Indeks ESG Jadi Acuan Utama Investasi di Pasar Modal

BEI Perkuat Peran Indeks ESG sebagai Panduan Investasi
Bursa Efek Indonesia (BEI) terus memperkuat peran indeks berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) sebagai acuan dalam pengambilan keputusan investasi. Di tengah fluktuasi pasar, BEI melihat minat investor terhadap instrumen berbasis keberlanjutan semakin meningkat.
Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyampaikan bahwa indeks ESG kini menjadi referensi penting, terutama seiring meningkatnya perhatian global terhadap energi terbarukan dan transisi energi. Kondisi ini mendorong investor untuk mempertimbangkan faktor keberlanjutan selain kinerja keuangan semata.
BEI Kembangkan Produk ESG melalui Indeks dan Reksadana
BEI mencatat perkembangan signifikan pada produk investasi berbasis ESG. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan per Februari 2026, terdapat 72 produk reksa dana pasif dan exchange-traded fund berbasis saham yang tercatat di bursa dengan total dana kelolaan mencapai Rp15,83 triliun.
Selain itu, BEI juga menyediakan enam indeks saham berbasis ESG untuk mendukung pertumbuhan produk investasi berkelanjutan. BEI melengkapi inisiatif tersebut dengan penyediaan platform, panduan pelaporan ESG, program edukasi bagi investor, serta kolaborasi dengan regulator dan mitra strategis.
BEI Gunakan Indeks IDX ESG Leaders untuk Mengukur Kinerja Emiten Berkelanjutan
Salah satu indeks unggulan yang dikembangkan BEI adalah IDX ESG Leaders atau IDXESGL. Indeks ini mengukur kinerja saham emiten yang memiliki penilaian ESG yang baik, tidak terlibat kontroversi besar, serta memiliki likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat.
BEI menyusun konstituen indeks ini dari saham-saham dalam IDX80 yang memiliki kapitalisasi besar dan likuiditas tinggi. Penilaian ESG dilakukan oleh Sustainalytics melalui ESG Risk Rating dengan rentang skor 0 hingga 100, di mana skor lebih rendah menunjukkan risiko ESG yang lebih kecil.
Metodologi perhitungan indeks menggunakan pendekatan capped free float market capitalization weighted yang dipadukan dengan faktor ESG. Selain itu, BEI membatasi bobot maksimum setiap saham hingga 15 persen guna menjaga keseimbangan dalam indeks.
Pelaku Industri Dorong Inovasi untuk Percepat Implementasi ESG
Seiring berkembangnya tren investasi hijau, pelaku industri juga mendorong inovasi untuk mempercepat implementasi ESG di Indonesia. Co-founder dan Chief Executive Officer Katadata Metta Dharmasaputra menilai ekonomi hijau berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
Namun demikian, ia menyoroti sejumlah tantangan dalam penerapan ESG, seperti keterbatasan data kuantitatif, kurangnya sumber daya manusia, serta tingginya biaya pengumpulan data. Oleh karena itu, Katadata Green meluncurkan KESGI Dashboard untuk menghimpun dan menganalisis data ESG perusahaan berbasis teknologi kecerdasan buatan.
BEI Perkuat Ekosistem ESG untuk Menarik Minat Investor Global
BEI terus memperkuat ekosistem ESG guna meningkatkan daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global. Dengan dukungan indeks, produk investasi, serta inovasi data dan teknologi, BEI berupaya menciptakan lingkungan investasi yang lebih transparan dan berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menunjukkan bahwa faktor ESG tidak lagi menjadi pelengkap, melainkan telah menjadi bagian utama dalam strategi investasi modern di pasar saham Indonesia.
