IHSG Menguat di Awal Perdagangan, Saham Grup Bakrie dan Prajogo Pangestu Melesat

Investor Mendorong IHSG Naik Seiring Lonjakan Saham Energi dan Konglomerasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung mencatatkan penguatan pada pembukaan perdagangan Jumat, 10 April 2026. Kenaikan ini terjadi seiring meningkatnya minat beli terhadap saham-saham dari Grup Bakrie serta emiten yang terafiliasi dengan Prajogo Pangestu.
Pada pukul 09.10 WIB, IHSG naik sebesar 1,33% atau 97,55 poin dan mencapai level 7.404,79. Penguatan ini memperlihatkan respons positif pelaku pasar terhadap sejumlah sentimen global dan domestik yang mulai mereda.
Saham-saham Grup Bakrie menjadi salah satu pendorong utama kenaikan indeks. Beberapa emiten mencatatkan lonjakan signifikan, di antaranya BUMI yang naik 1,64%, BNBR sebesar 6,45%, VKTR melonjak 7,07%, serta DEWA yang turut menguat 2%. Di sisi lain, saham milik Prajogo Pangestu juga menunjukkan performa solid, seperti BRPT yang naik 3,25% dan CUAN yang melesat hingga 7,87%.
Analis Menilai Sentimen Global dan Sinyal Teknikal Mendorong Penguatan
Sebelumnya, analis telah memproyeksikan IHSG akan bergerak menguat dan menguji level resistance di kisaran 7.300 hingga 7.350. Prediksi tersebut muncul setelah melihat kombinasi faktor teknikal dan sentimen eksternal yang mendukung.
Tim riset Phintraco Sekuritas menjelaskan bahwa koreksi harga minyak mentah global menjadi salah satu pemicu utama. Penurunan ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyetujui penundaan rencana serangan terhadap infrastruktur di Iran selama dua pekan.
Selain itu, indikator teknikal juga menunjukkan tren positif. Histogram yang terus bergerak di area positif disertai peningkatan volume beli mencerminkan adanya akumulasi oleh investor. Indikator RSI pun menguat, sementara IHSG berhasil menembus level MA5 dan MA20, yang memperkuat peluang kenaikan lanjutan.
Investor Mencermati Cadangan Devisa dan Kebijakan OJK
Di sisi domestik, pelaku pasar turut memperhatikan penurunan cadangan devisa Indonesia. Data menunjukkan cadangan devisa turun menjadi US$148,2 miliar pada Maret 2026 dari sebelumnya US$151,9 miliar pada Februari 2026.
Penurunan ini terjadi seiring langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global. Meski demikian, posisi cadangan devisa masih tergolong aman karena mampu membiayai sekitar enam bulan impor atau 5,8 bulan impor serta pembayaran utang luar negeri pemerintah, jauh di atas standar internasional.
Selain itu, investor juga menyoroti rencana Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang tengah menyusun aturan baru terkait rencana bisnis bank. Kebijakan ini bertujuan mendukung program prioritas pemerintah sekaligus memperkuat sektor UMKM dan menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.
Analis Merekomendasikan Sejumlah Saham untuk Dicermati
Dengan berbagai sentimen yang berkembang, analis merekomendasikan beberapa saham untuk diperhatikan dalam perdagangan hari ini. Saham-saham tersebut antara lain BBNI, BBCA, UNVR, ISAT, dan ASII.
Rekomendasi ini didasarkan pada potensi pergerakan teknikal serta fundamental yang dinilai masih menarik di tengah dinamika pasar. Namun demikian, investor tetap perlu mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan investasi.
