IHSG Melemah, Analis Soroti Peluang Saham Potensial di Tengah Tekanan Pasar

IHSG Ditutup Turun dan Investor Asing Lanjutkan Aksi Jual
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Kamis, 2 April 2026, dengan penurunan tajam sebesar 2,19% ke level 7.026,78. Pelemahan ini mencerminkan tekanan pasar yang masih kuat, terutama akibat aksi jual investor asing yang belum mereda.
Investor asing mencatatkan jual bersih sebesar Rp864,49 miliar di pasar reguler dan mencapai Rp813,82 miliar di seluruh pasar. Tekanan ini memperlihatkan bahwa sentimen global dan domestik masih membayangi pergerakan indeks.
Sejumlah Saham Menahan Penurunan IHSG di Tengah Tekanan
Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham justru mampu mencatatkan penguatan dan membantu menahan penurunan IHSG. Saham seperti BBCA, DSSA, dan MSIN tampil sebagai penopang utama dengan kinerja positif.
Sebaliknya, tekanan terbesar datang dari saham BREN, AMMN, dan BYAN yang mengalami penurunan signifikan. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih bergerak selektif dan sensitif terhadap sentimen tertentu.
Mayoritas Sektor Melemah dan Volatilitas Pasar Masih Tinggi
Secara sektoral, hampir seluruh indeks mengalami penurunan, dengan sektor basic industrial mencatat koreksi terdalam. Sementara itu, sektor cyclicals menjadi satu-satunya yang masih mampu mencatatkan penguatan tipis.
Kondisi ini menegaskan bahwa volatilitas pasar masih tinggi. Pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah ketidakpastian yang terus berkembang.
Sentimen Global dan Geopolitik Tekan Pergerakan Pasar
Dari pasar global, indeks saham Amerika Serikat menunjukkan pergerakan beragam. Dow Jones melemah, sedangkan S&P 500 dan Nasdaq mencatat kenaikan terbatas.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik meningkat setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Situasi ini turut mendorong kenaikan harga minyak Brent dan WTI, sekaligus menekan indeks ETF Indonesia seperti EIDO dan MSCI Indonesia.
BEI Ungkap Konsentrasi Kepemilikan Saham yang Tinggi
Bursa Efek Indonesia merilis daftar saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) per 2 April 2026. Terdapat sembilan emiten dengan free float di bawah 5%, yaitu ROCK, IFSH, SOTS, AGII, BREN, MGLV, DSSA, LUCY, dan RLCO.
Kondisi ini menunjukkan likuiditas yang terbatas akibat dominasi kepemilikan oleh pihak tertentu. Selain itu, pelaku pasar mulai mencermati potensi perubahan komposisi indeks MSCI Indonesia Large Cap, terutama pada saham BREN dan DSSA.
Aksi Korporasi DSSA Dorong Perhatian Investor
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) merencanakan aksi stock split dengan rasio 1:25 setelah mendapat persetujuan RUPS pada 11 Maret 2026. Jumlah saham beredar diproyeksikan meningkat signifikan menjadi 192,63 miliar lembar.
Aksi ini dijadwalkan efektif pada 9 April 2026, dengan estimasi harga saham sekitar Rp2.815 per lembar berdasarkan harga penutupan sebelumnya. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan likuiditas dan menarik minat investor.
Analis Rekomendasikan Saham Potensial di Tengah Ketidakpastian
Mega Capital Sekuritas merekomendasikan beberapa saham yang dinilai memiliki peluang cuan di tengah kondisi pasar saat ini. Saham STAA, GJTL, ICBP, NISP, dan MNCN masuk dalam daftar pilihan dengan target harga dan batas risiko yang telah diperhitungkan.
Namun demikian, analis menegaskan bahwa seluruh rekomendasi bersifat informatif. Setiap keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing investor.
