Krakatau Steel Perkuat Transformasi dan Dorong Saham KRAS Berpotensi Melonjak 35%

Krakatau Steel meluncurkan strategi transformasi untuk memperkuat kinerja bisnis
JAKARTA – PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) memperkenalkan strategi transformasi terbaru pada Maret 2026 sebagai langkah memperkuat fundamental bisnis sekaligus mendorong pertumbuhan jangka panjang. Langkah ini muncul setelah perseroan mencatatkan laba bersih sebesar Rp5,7 triliun sepanjang 2025.
Phintraco Sekuritas menilai strategi tersebut menjadi fase penting bagi KRAS untuk beralih dari sekadar bertahan menjadi pemain utama di industri baja nasional. Perseroan tidak hanya fokus pada restrukturisasi keuangan, tetapi juga meningkatkan efisiensi operasional dan produktivitas.
Melalui roadmap yang disusun, Krakatau Steel menargetkan peningkatan daya saing secara berkelanjutan dengan memperkuat struktur bisnis dan mendorong profitabilitas dalam jangka panjang.
Krakatau Steel mencatat pertumbuhan kinerja dan meningkatkan volume penjualan baja
Sepanjang 2025, Krakatau Steel membukukan pendapatan sebesar US$959,84 juta atau tumbuh 0,5% secara tahunan. Pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan volume penjualan baja yang melonjak 29% menjadi 944 ribu ton.
Selain itu, dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026, KRAS menargetkan produksi baja mencapai 1,3 juta ton. Target ini meningkat 38,9% dibandingkan realisasi sebelumnya dan didukung optimalisasi fasilitas hot strip mill (HSM) serta cold rolling mill (CRM).
Peningkatan kapasitas produksi tersebut diharapkan mampu memperkuat posisi perseroan di tengah meningkatnya kebutuhan baja domestik.
Krakatau Steel mempercepat ekspansi pabrik baja baru untuk mendukung pertumbuhan
Di sisi lain, Krakatau Steel juga menyiapkan ekspansi besar melalui pembangunan pabrik baja baru yang mendapat dukungan Danantara. Perseroan menargetkan fasilitas tersebut mulai beroperasi secara komersial pada periode 2028 hingga 2029 dengan kapasitas produksi mencapai 3 juta ton per tahun.
Langkah ekspansi ini sejalan dengan percepatan pembangunan proyek strategis nasional (PSN) periode 2025-2029 yang diperkirakan akan meningkatkan permintaan baja. Dalam jangka menengah, KRAS bahkan menargetkan kapasitas produksi dapat mencapai 4,5 juta ton per tahun.
Dengan strategi ekspansi tersebut, Krakatau Steel berupaya memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam industri baja nasional sekaligus meningkatkan kontribusi terhadap pembangunan infrastruktur.
Analis memproyeksikan saham KRAS berpotensi naik hingga 35 persen
Seiring dengan rencana transformasi dan ekspansi tersebut, Phintraco Sekuritas memberikan rekomendasi beli untuk saham KRAS. Mereka menetapkan target harga wajar di level Rp400 per saham.
Target ini mencerminkan potensi kenaikan sekitar 35% dibandingkan harga saham KRAS saat riset dilakukan yang berada di level Rp296. Proyeksi ini didasarkan pada asumsi peningkatan produksi dan perbaikan kinerja operasional ke depan.
Dengan kombinasi strategi transformasi dan ekspansi agresif, saham KRAS dinilai memiliki peluang untuk mencatatkan kinerja yang lebih kuat di pasar.
