Emiten Gencar Rights Issue untuk Penuhi Aturan Free Float dan Perkuat Likuiditas
JAKARTA – Sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai mempercepat rencana rights issue sepanjang 2026. Perusahaan tercatat mengambil langkah ini untuk memenuhi ketentuan free float terbaru sekaligus memperkuat likuiditas di tengah tekanan pasar.
Berdasarkan keterbukaan informasi BEI, setidaknya 19 emiten telah merencanakan aksi penambahan modal melalui skema Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD). Meskipun kondisi likuiditas domestik masih terbatas, sejumlah perusahaan tetap agresif menerbitkan saham baru dalam jumlah besar.
Emiten Besar Menggalang Dana Jumbo Lewat Penerbitan Saham Baru
PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) menjadi salah satu emiten yang mengambil langkah signifikan dengan merencanakan penerbitan hingga 86,70 miliar saham baru seri E. Perseroan menetapkan harga pelaksanaan Rp12 per saham dengan tujuan utama membayar utang serta memperkuat permodalan anak usaha.
Selanjutnya, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) juga menyiapkan rights issue dalam skala besar dengan rencana menerbitkan 50 miliar saham baru. Perseroan mematok harga Rp50 per saham dan mengarahkan dana hasil aksi korporasi untuk belanja modal, termasuk pengembangan aset, akuisisi, serta ekspansi usaha.
Di sisi lain, PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) turut melakukan aksi serupa dalam skala lebih kecil dengan menerbitkan 238,59 juta saham baru pada harga Rp590 per saham. Perusahaan akan menggunakan dana tersebut untuk mendukung akuisisi dan penguatan ekspansi bisnis.
Aturan Free Float Baru Mendorong Perusahaan Menambah Porsi Saham Publik
Peningkatan aktivitas rights issue tidak terlepas dari kebijakan terbaru BEI yang menaikkan batas minimum free float menjadi 15% pada akhir Maret 2026. Aturan ini mendorong emiten untuk meningkatkan porsi kepemilikan publik agar tetap memenuhi persyaratan sebagai perusahaan terbuka.
Dengan demikian, rights issue kini tidak hanya berfungsi sebagai instrumen penghimpunan dana, tetapi juga menjadi strategi untuk menyesuaikan struktur kepemilikan saham. Perusahaan harus mempertimbangkan daya serap pasar agar penerbitan saham baru tidak justru menekan harga saham di pasar.
Investor Menyaring Rights Issue Berdasarkan Fundamental dan Rencana Ekspansi
Di tengah kondisi pasar yang masih fluktuatif, investor cenderung lebih selektif dalam menyerap rights issue. Tekanan likuiditas terlihat dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang masih melemah 13,26% sepanjang 2026, serta aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp37,14 triliun hingga 10 April 2026.
Analis menilai kondisi ini menciptakan fragmentasi dalam penyerapan saham baru. Emiten dengan rencana ekspansi yang jelas dan fundamental kuat memiliki peluang lebih besar untuk menarik minat investor. Sebaliknya, perusahaan yang menerbitkan saham baru hanya untuk kebutuhan refinancing dinilai kurang menarik.
Selain itu, tingkat suku bunga yang relatif tinggi turut meningkatkan biaya modal, sehingga membuat investor semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan. Likuiditas pasar juga cenderung terkonsentrasi pada saham berkapitalisasi besar, sehingga saham lapis kedua menghadapi tantangan lebih besar dalam menarik dana.
Ke depan, keberhasilan rights issue akan sangat bergantung pada kepercayaan pasar terhadap strategi bisnis emiten serta transparansi penggunaan dana yang dihimpun.
