IHSG Melonjak Tajam Setelah Gencatan Senjata AS-Iran Redakan Ketegangan Global

IHSG bangkit kuat usai sempat terpuruk di bawah level psikologis
Jakarta – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia berhasil bangkit signifikan dan mencatatkan penguatan 6,53% ke level 7.458. Kenaikan ini terjadi setelah indeks sempat merosot tajam hingga menembus level di bawah 7.000 pada awal April 2026.
Pergerakan positif tersebut menandai fase rebound pasar saham domestik setelah tekanan kuat akibat sentimen global. Pelaku pasar mulai kembali masuk seiring meningkatnya optimisme terhadap stabilitas geopolitik dan prospek ekonomi global.
Pasar merespons positif gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran
Kebangkitan IHSG tidak terlepas dari keputusan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang diumumkan pada 8 April 2026. Kesepakatan tersebut langsung meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi konflik berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Sebelumnya, ketegangan sempat meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan ultimatum pada 6 April 2026 terkait ancaman terhadap infrastruktur energi Iran. Pernyataan tersebut memicu tekanan di pasar keuangan global, termasuk pasar saham Indonesia.
Namun, setelah muncul sinyal deeskalasi melalui gencatan senjata, sentimen pasar berbalik arah. Investor merespons cepat dengan kembali masuk ke pasar saham, sehingga mendorong penguatan IHSG secara signifikan dalam waktu singkat.
IHSG sempat mencetak level terendah tahun ini sebelum akhirnya rebound
Pada awal pekan, IHSG sempat turun ke level 6.989 akibat tekanan sentimen geopolitik yang belum mereda. Bahkan, indeks kembali melemah 0,26% ke posisi 6.971, yang menjadi titik terendah sepanjang tahun berjalan 2026.
Kondisi tersebut mencerminkan tingginya sensitivitas pasar terhadap perkembangan global, khususnya terkait konflik geopolitik. Namun, perubahan arah kebijakan dan meredanya ketegangan langsung mengubah persepsi risiko investor.
Dengan demikian, rebound IHSG menunjukkan bahwa pasar saham domestik masih memiliki daya tahan yang kuat terhadap tekanan eksternal. Ke depan, pelaku pasar akan terus mencermati perkembangan global untuk menentukan arah investasi selanjutnya.
