Saham INDF Terus Diborong Asing Saat Valuasi Masih Murah

Investor Asing Agresif Mengakumulasi Saham INDF dalam Sebulan Terakhir
JAKARTA — Saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) terus menarik minat investor asing dalam beberapa waktu terakhir. Sepanjang satu bulan terakhir, investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net buy sebesar Rp115,05 miliar pada saham emiten yang berada di bawah Grup Salim tersebut.
Seiring dengan masuknya dana asing, harga saham INDF turut mengalami kenaikan signifikan. Dalam periode yang sama, saham ini menguat hingga 10,74%, mencerminkan meningkatnya kepercayaan pasar terhadap prospek perusahaan.
Pada penutupan perdagangan Jumat, 10 April 2026, saham INDF naik 1,52% ke level Rp6.700. Aktivitas perdagangan tercatat cukup aktif dengan volume mencapai 11,64 juta saham, frekuensi 4.729 kali, serta nilai transaksi sebesar Rp77,57 miliar.
Valuasi Saham Tetap Rendah Meski Harga Menguat
Meski harga saham terus menanjak, valuasi INDF masih tergolong menarik. Rasio price to book value (PBV) tercatat di level 0,80 kali, sementara price to earnings ratio (PER) berada di kisaran 5,51 kali.
Dengan valuasi tersebut, saham Indofood dinilai masih berada di bawah nilai wajarnya. Kapitalisasi pasar perseroan saat ini mencapai sekitar Rp58,83 triliun, memperkuat posisi INDF sebagai salah satu emiten konsumsi besar di Bursa Efek Indonesia.
Analis Menetapkan Level Teknis sebagai Acuan Trading
Menanggapi pergerakan saham INDF, CGS International Sekuritas memberikan pandangan teknikal untuk perdagangan Senin, 13 April 2026. Analis menetapkan resistance pertama di level 6.733 dan resistance lanjutan di 6.760.
Sementara itu, level support diproyeksikan berada di 6.633 sebagai batas bawah awal dan 6.567 sebagai area penahan berikutnya. Level-level ini menjadi acuan penting bagi pelaku pasar dalam menentukan strategi transaksi jangka pendek.
Kinerja Keuangan Tetap Solid di Tengah Tekanan Biaya
Dari sisi fundamental, Indofood menunjukkan ketahanan kinerja sepanjang 2025. Pendapatan perseroan tercatat sesuai dengan proyeksi analis, bahkan mencapai 102,2% dari estimasi KB Valbury Sekuritas dan 100,2% dari konsensus pasar.
Meskipun menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku serta pelemahan pada segmen consumer branded products (CBP), laba kotor perusahaan tetap sejalan dengan ekspektasi analis.
Selain itu, adanya keuntungan non-berulang turut mendorong laba bersih INDF melampaui proyeksi internal sebesar 5,49%, meski masih sedikit di bawah konsensus analis.
Segmen Agribisnis dan Bogasari Mendorong Pertumbuhan Laba
Di tengah tekanan pada segmen CBP, Indofood berhasil menjaga kinerja melalui kontribusi segmen lainnya. Segmen agribisnis menjadi pendorong utama dengan pertumbuhan mencapai 31,8% secara tahunan, didukung oleh peningkatan volume penjualan dan harga jual rata-rata yang lebih tinggi.
Ke depan, analis memperkirakan segmen Bogasari Flour Mills bersama agribisnis akan terus menopang pertumbuhan laba INDF pada 2026. Prospek ini memperkuat pandangan bahwa saham INDF masih memiliki potensi kenaikan lebih lanjut.
