Saham SMDR Berada di Bawah PBV 1 dan Catatkan Omzet Rp 13 Triliun

Saham SMDR Bergerak Stagnan di Tengah Tekanan Tiga Bulan Terakhir
JAKARTA – Saham PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) tidak menunjukkan pergerakan signifikan dan ditutup stagnan di level Rp 346 pada akhir sesi I perdagangan Senin, 13 April 2026. Aktivitas perdagangan mencatat 6,74 juta saham berpindah tangan dengan frekuensi 950 kali dan nilai transaksi mencapai Rp 2,30 miliar.
Dalam beberapa bulan terakhir, tekanan terhadap saham ini masih terasa. Sepanjang tiga bulan terakhir, harga SMDR terkoreksi 16,83% dari posisi Rp 416. Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang belum sepenuhnya pulih terhadap sektor pelayaran.
Valuasi Rendah Menarik Perhatian Investor
Di tengah tekanan harga, valuasi saham SMDR justru terlihat menarik. Rasio price to book value (PBV) tercatat hanya 0,62 kali, sementara price earning ratio (PER) berada di level 6,61 kali. Kapitalisasi pasar emiten yang dipimpin Bani Maulana Mulia ini mencapai sekitar Rp 5,6 triliun.
Valuasi yang relatif rendah ini membuka peluang bagi investor untuk mencermati potensi jangka menengah hingga panjang, terutama ketika kinerja fundamental tetap terjaga.
Kenaikan Tarif Kontainer Dorong Prospek Bisnis Pelayaran
Di sisi lain, sentimen global mulai memberikan dorongan positif bagi sektor pelayaran. Maybank Sekuritas mencatat bahwa indeks tarif kontainer kembali meningkat setelah pernyataan Donald Trump yang berpotensi memperpanjang gangguan rantai pasok global.
Kondisi tersebut memberikan peluang bagi SMDR untuk meningkatkan kinerja operasional. Selain itu, ekspansi armada yang dilakukan perseroan juga memperkuat prospek pertumbuhan. Risiko operasional dinilai relatif terbatas karena perusahaan tidak memiliki eksposur langsung terhadap jalur strategis Selat Hormuz.
Kinerja Keuangan SMDR Tetap Tumbuh di Tengah Tekanan Biaya
Sepanjang tahun 2025, Samudera Indonesia membukukan pendapatan sebesar US$ 801,69 juta atau sekitar Rp 13,3 triliun. Angka ini meningkat 8,7% dibandingkan realisasi tahun 2024 sebesar US$ 737,4 juta.
Namun demikian, kenaikan biaya jasa menjadi tantangan tersendiri. Perseroan mencatat biaya sebesar US$ 654,4 juta, meningkat dari US$ 587,99 juta pada tahun sebelumnya. Akibatnya, laba bruto sedikit tertekan menjadi US$ 147,28 juta dari sebelumnya US$ 149,4 juta.
Meski begitu, kinerja laba tetap menunjukkan perbaikan. Laba sebelum pajak naik menjadi US$ 86,33 juta dari US$ 84,7 juta. Peningkatan ini didorong oleh kontribusi laba dari entitas asosiasi dan ventura bersama sebesar US$ 3,9 juta, berbalik dari rugi US$ 7,7 juta pada tahun sebelumnya.
Laba Bersih SMDR Meningkat dan Perkuat Fundamental Perusahaan
Pada akhirnya, SMDR mencatat laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 52,05 juta atau sekitar Rp 867 miliar pada 2025. Angka ini tumbuh 2,6% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar US$ 50,7 juta.
Kinerja ini menunjukkan bahwa meskipun menghadapi tekanan biaya dan fluktuasi pasar, fundamental perusahaan tetap terjaga. Dengan kombinasi valuasi rendah dan prospek industri yang membaik, saham SMDR berpotensi kembali menarik minat investor ke depan.
