BEI Keluarkan BREN dan DSSA dari LQ45 dan IDX80 sehingga Risiko Forced Selling Meningkat

Analis Menilai Keluarnya BREN dan DSSA Memicu Tekanan Jual dari Dana Pasif
JAKARTA — Bursa Efek Indonesia memutuskan mengeluarkan PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dari indeks LQ45 dan IDX80 secara bersamaan. Keputusan ini langsung memicu potensi tekanan jual dalam jangka pendek, terutama dari investor institusi yang mengelola dana berbasis indeks.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan bahwa langkah tersebut berpotensi mendorong aksi jual paksa atau forced selling. Ia menilai kondisi ini muncul karena pengelola dana pasif seperti reksa dana indeks dan exchange traded fund wajib menyesuaikan portofolio mereka mengikuti komposisi indeks terbaru.
Wafi menegaskan bahwa tekanan jual yang muncul bukan berasal dari penurunan kinerja fundamental kedua emiten. Sebaliknya, ia menyebut faktor teknikal menjadi penyebab utama, terutama terkait kebijakan baru yang mengatur konsentrasi kepemilikan saham.
BEI Terapkan Aturan HSC untuk Menekan Konsentrasi Kepemilikan Saham
Selanjutnya, Bursa Efek Indonesia menerapkan kriteria high shareholding concentration (HSC) guna mengurangi dominasi kepemilikan saham pada emiten tertentu. Kebijakan ini bertujuan menjaga stabilitas pasar dan meningkatkan kualitas indeks.
Akibat penerapan aturan tersebut, BREN dan DSSA tidak lagi memenuhi syarat sebagai konstituen indeks utama. Meski demikian, Wafi memperkirakan tekanan harga yang muncul hanya bersifat sementara dan akan mereda setelah proses rebalancing selesai pada awal Mei 2026.
Dengan demikian, pelaku pasar cenderung melihat koreksi harga sebagai dampak teknikal jangka pendek, bukan refleksi perubahan kinerja perusahaan.
Emiten Baru di LQ45 Berpeluang Mendapat Aliran Dana dan Sentimen Positif
Di sisi lain, sejumlah saham yang masuk ke dalam indeks LQ45 justru berpotensi memperoleh sentimen positif. Emiten seperti PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI) diperkirakan menarik minat investor.
Wafi menilai CUAN memiliki daya tarik kuat karena eksposurnya pada sektor komoditas yang solid. Selain itu, langkah korporasi untuk meningkatkan porsi saham publik dinilai mampu mendukung pemenuhan kriteria HSC.
Sementara itu, HRTA berpotensi diuntungkan oleh tren harga emas global yang masih tinggi. Di sisi lain, WIFI mencuri perhatian berkat posisinya di sektor infrastruktur digital yang terus berkembang.
Dengan kondisi tersebut, pergeseran komposisi indeks tidak hanya memicu tekanan pada saham yang keluar, tetapi juga membuka peluang aliran dana baru bagi emiten yang masuk.
