IHSG Menguat ke Level 7.147 di Awal Sesi Selasa
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan hari Selasa, 28 April 2026, dengan performa positif. Indeks melaju 0,58 persen atau 41,08 poin menuju level 7.147,60. Data Bursa Efek Indonesia mencatat pergerakan indeks berada di rentang 7.128,46 hingga 7.150,99 pada awal sesi. Sentimen positif mendorong 329 saham bergerak ke zona hijau, sementara 158 saham terkoreksi dan 189 saham stagnan dengan total kapitalisasi pasar mencapai Rp12.780,47 triliun.
Saham Big Caps Mendominasi Laju Penguatan Indeks
Saham-saham berkapitalisasi besar memimpin laju indeks pada pembukaan perdagangan ini. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan penguatan sebesar 1,67 persen ke level Rp6.075 per saham. PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) mengikuti dengan kenaikan 1,48 persen ke posisi Rp8.575, serta PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) tumbuh 1,32 persen ke level Rp1.540. Emiten energi dan infrastruktur turut menopang pergerakan indeks, dengan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) naik 1,29 persen, PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) menguat 0,87 persen, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) tumbuh 0,81 persen. Di sisi lain, PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) dan PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mengalami tekanan jual masing-masing sebesar 1,85 persen dan 1,06 persen.
Analis Memperingatkan Potensi Koreksi Akibat Sentimen Global
Pelaku pasar tetap mewaspadai risiko koreksi lanjutan meskipun indeks menguat di awal sesi. Indeks gagal menembus level psikologis 7.250 pada perdagangan sebelumnya, sehingga tekanan jual masih membayangi pergerakan harga. Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memproyeksikan rentang support berada di level 6.900–7.000, sedangkan level resistance menempati kisaran 7.200–7.250. Investor kini menerapkan strategi wait and see sambil menanti hasil rapat FOMC serta memantau eskalasi geopolitik di Selat Hormuz antara Amerika Serikat dan Iran. Aksi jual bersih asing senilai Rp2,01 triliun pada saham-saham big caps di perdagangan sebelumnya juga memicu kewaspadaan investor terhadap keberlanjutan tren penguatan ini.
