Indeks Bisnis-27 Melemah saat Pembukaan, Saham Tambang Tetap Menguat

JAKARTA — Indeks Bisnis-27 membuka perdagangan pada Kamis, 30 April 2026, di zona merah. Indeks hasil kolaborasi Bisnis Indonesia itu turun 0,45 persen atau 2,12 poin ke level 467,77. Meski begitu, sejumlah saham anggota indeks justru bergerak positif dan mampu menahan tekanan pasar.
Pada awal sesi perdagangan, aktivitas transaksi di indeks ini mencatat volume 114,2 juta saham dengan nilai transaksi mencapai Rp387,1 miliar. Sementara itu, kapitalisasi pasar Indeks Bisnis-27 tercatat sebesar Rp3.505 triliun.
Saham Tambang dan Farmasi Mendorong Penguatan Sejumlah Konstituen
Di tengah pelemahan indeks, beberapa saham konstituen justru bergerak naik. Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR) menguat 0,27 persen ke level Rp1.865. Selanjutnya, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO) naik 0,82 persen ke posisi Rp2.460.
Selain itu, saham PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) juga mencatat penguatan signifikan sebesar 1,83 persen ke level Rp6.950. Dari sektor kesehatan, saham PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) meningkat 1,71 persen menjadi Rp890.
Tidak hanya itu, saham PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) ikut menguat 0,56 persen ke Rp1.810, sedangkan saham PT Bukit Asam (Persero) Tbk. (PTBA) naik 0,34 persen ke level Rp2.920.
Pergerakan saham-saham tersebut menunjukkan bahwa minat investor terhadap sektor komoditas dan sektor defensif masih cukup kuat di tengah tekanan pasar yang terjadi pada awal perdagangan.
Rebalancing Indeks Bisnis-27 Menghadirkan Delapan Emiten Baru
Di sisi lain, pasar juga menantikan pelaksanaan rebalancing Indeks Bisnis-27 yang berlaku untuk periode 4 Mei 2026 hingga 30 Oktober 2026. Dalam penyesuaian terbaru tersebut, delapan emiten baru resmi masuk ke dalam indeks.
Perusahaan yang bergabung meliputi PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), serta PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS).
Masuknya emiten-emiten tersebut memperkuat diversifikasi sektor di dalam indeks sekaligus meningkatkan daya tarik indeks sebagai salah satu acuan investasi di pasar modal Indonesia.
Analis Menilai Rebalancing Mendorong Rotasi Dana Investor
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menilai rebalancing indeks biasanya memicu perpindahan dana di antara saham-saham yang masuk maupun keluar dari indeks.
Menurutnya, perubahan komposisi indeks dapat menciptakan peluang rotasi yang bisa dimanfaatkan investor untuk membaca momentum pasar.
Sementara itu, Head of Research Mirae Asset Sekuritas, Rully Wisnubroto, menilai kehadiran emiten baru menunjukkan proses seleksi yang semakin ketat. Ia juga melihat langkah tersebut mampu memperkuat prospek pertumbuhan laba agregat dan menambah variasi sektor bagi investor.
Rully menambahkan bahwa saham BRMS dan DEWA masih menyimpan cerita pertumbuhan yang menarik, terutama dari sektor komoditas yang masih mendapat perhatian pasar.
