IHSG Tertekan Sepanjang April 2026, Saham Komoditas Masih Menopang Kinerja Pasar

JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan menutup April 2026 dengan tekanan yang cukup dalam setelah berbagai sentimen global dan domestik membayangi pergerakan pasar modal Indonesia. Hingga penutupan perdagangan Kamis, 30 April 2026, IHSG berada di level 6.956,80 atau turun 19,55 persen secara year to date.
Pelemahan tersebut menempatkan pasar saham Indonesia sebagai salah satu indeks dengan koreksi terdalam di kawasan Asia sepanjang empat bulan pertama tahun ini. Data perdagangan Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan investor asing masih melakukan aksi jual bersih dengan nilai mencapai Rp49,87 triliun sepanjang 2026.
Di tengah tekanan tersebut, valuasi pasar saham Indonesia mulai bergerak ke level yang lebih rendah. Rasio price to earnings berada di kisaran 14,69 kali, sementara price to book value tercatat sebesar 1,90 kali.
Saham Komoditas Menjaga Peluang Cuan Saat IHSG Melemah
Meski indeks utama mengalami koreksi tajam, sejumlah saham berbasis komoditas justru masih mencatat performa positif. Saham PT Sumber Global Energy Tbk. (EMAS) menjadi salah satu emiten yang mampu bertahan di zona hijau sepanjang tahun berjalan.
Selain itu, saham PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), hingga PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) juga masuk dalam jajaran saham dengan performa terbaik.
Pergerakan positif saham-saham komoditas menunjukkan bahwa sektor berbasis energi dan mineral masih menjadi pilihan investor di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar global.
Saham Big Caps Menekan Pergerakan IHSG Selama Empat Bulan
Di sisi lain, tekanan terhadap IHSG banyak berasal dari saham-saham berkapitalisasi besar. Beberapa saham yang paling membebani indeks sepanjang 2026 antara lain PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI).
Selain itu, saham PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), serta PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga memberi tekanan cukup besar terhadap laju indeks.
Koreksi pada saham-saham unggulan tersebut terjadi bersamaan dengan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global dan potensi perlambatan pertumbuhan.
Sentimen Global dan Kebijakan MSCI Mendorong Dana Asing Keluar
Analis menilai pelemahan pasar saham Indonesia dipicu kombinasi faktor eksternal dan internal. Lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah membuat investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.
Di saat yang sama, keputusan MSCI yang membekukan perubahan terhadap saham Indonesia juga memicu kekhawatiran pasar. Kondisi tersebut mendorong arus keluar dana asing dalam jangka pendek dan menambah tekanan terhadap IHSG.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand, menilai koreksi tajam telah membawa valuasi IHSG mendekati area undervalued. Menurutnya, kondisi ini mulai membuka ruang akumulasi bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang.
Analis Melihat Peluang Pemulihan pada Semester Kedua 2026
Meski tekanan jangka pendek masih membayangi, sejumlah analis melihat peluang pemulihan mulai terbuka pada paruh kedua tahun ini. Reformasi pasar modal, penyesuaian aturan free float, serta peningkatan transparansi investor dinilai dapat memperkuat kepercayaan investor global.
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi juga menilai sejumlah saham dengan valuasi menarik mulai layak diperhatikan. Ia melihat saham seperti AADI, AKRA, BBCA, MEDC, AMRT, INDF, dan ICBP memiliki potensi menarik karena fundamental yang tetap solid.
Jika stabilitas nilai tukar rupiah terjaga dan sentimen global membaik, arus dana asing berpotensi kembali masuk ke pasar saham Indonesia pada kuartal III hingga kuartal IV 2026.
