IHSG Tertekan Sepanjang 2026, Saham DSSA, BBCA, dan BREN Bebani Pergerakan Indeks

Bisnis.com, Jakarta — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan memasuki empat bulan pertama 2026 dengan tekanan yang cukup dalam. Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang selama ini menjadi penopang pasar justru berbalik melemah dan menyeret laju indeks ke zona negatif.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia hingga 30 April 2026, IHSG turun 19,55 persen secara year to date dan parkir di level 6.956,81. Penurunan ini membawa indeks kembali ke area yang terakhir terlihat pada pertengahan 2025. Di saat yang sama, investor asing juga mencatat aksi jual bersih mencapai Rp49,87 triliun, sehingga tekanan terhadap pasar semakin besar.
Saham Berkapitalisasi Jumbo Menekan Kinerja IHSG
Koreksi terdalam datang dari saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. dengan kode DSSA. Setelah melakukan stock split, saham ini turun 60,02 persen menjadi Rp1.615 per saham dan memberi tekanan sebesar 214,26 poin terhadap IHSG.
Selanjutnya, saham PT Bank Central Asia Tbk. dengan kode BBCA juga mengalami penurunan signifikan. Harga saham emiten perbankan tersebut terkoreksi 27,55 persen menjadi Rp5.850 dan membebani indeks sebesar 210,18 poin.
Tekanan berikutnya datang dari saham PT Barito Renewables Energy Tbk. atau BREN. Saham ini terkoreksi 54,02 persen ke level Rp4.460 dan mengurangi laju indeks sebesar 193,86 poin. Koreksi yang terjadi pada DSSA dan BREN juga muncul setelah Bursa Efek Indonesia memasukkan keduanya ke dalam daftar saham dengan indikasi high shareholding concentration pada awal April 2026.
Saham Perbankan dan Emiten Besar Ikut Mengalami Koreksi
Selain BBCA, tekanan juga datang dari saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. atau BBRI yang melemah 18,31 persen menjadi Rp2.990. Sementara itu, saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. atau BMRI turun 13,92 persen ke level Rp4.390.
Tidak hanya sektor perbankan, sejumlah emiten besar lainnya juga mengalami pelemahan. Saham PT MD Entertainment Tbk. terkoreksi 83,59 persen, PT Barito Pacific Tbk. turun 43,88 persen, dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. melemah 19,25 persen sepanjang tahun berjalan.
Analis Melihat Peluang Pemulihan Mulai Terbuka
Analis BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai koreksi tajam yang terjadi telah menurunkan valuasi pasar ke level yang menarik. Rasio price to earnings IHSG kini berada di kisaran 11 hingga 12 kali, lebih rendah dibanding rata-rata historis.
Menurutnya, kondisi tersebut membuka ruang bagi investor jangka menengah untuk melakukan akumulasi bertahap. Namun, pasar tetap menunggu katalis utama, terutama stabilitas rupiah, arah suku bunga global, serta keberlanjutan reformasi pasar modal domestik.
Jika reformasi free float dan transparansi pasar berjalan sesuai rencana, aliran dana asing berpotensi kembali masuk pada semester kedua 2026.
