BCA Kirim Sinyal Optimistis Lewat Buyback Saham BBCA di Tengah Koreksi Pasar

Bank Central Asia mengirim sinyal optimistis kepada pelaku pasar setelah harga saham perseroan mengalami tekanan sepanjang awal 2026. Emiten perbankan milik Grup Djarum itu memilih menjalankan aksi pembelian kembali saham atau buyback sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga saham sekaligus menegaskan keyakinan manajemen terhadap fundamental bisnis perusahaan.
Hingga akhir April 2026, saham BBCA tercatat berada di level Rp5.980 per lembar atau turun 27,55 persen secara year to date. Di tengah tekanan tersebut, manajemen BCA tetap mengambil langkah korporasi dengan mengeksekusi buyback saham yang sebelumnya telah memperoleh persetujuan dalam rapat umum pemegang saham tahunan 2026.
Manajemen BCA Jalankan Buyback untuk Menjaga Kepercayaan Investor
Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, menegaskan bahwa aksi buyback menjadi bentuk keyakinan perseroan terhadap kekuatan fundamental bisnis yang dimiliki perusahaan. Menurutnya, langkah tersebut juga menunjukkan optimisme BCA terhadap prospek pasar modal Indonesia dalam jangka panjang.
BCA mulai menjalankan buyback saham sejak 28 April 2026. Program tersebut dijadwalkan berlangsung selama 12 bulan, terhitung sejak 12 Maret 2026 hingga 11 Maret 2027. Namun, perseroan tetap membuka peluang untuk mengakhiri program lebih cepat dengan mempertimbangkan kondisi pasar dan perkembangan regulasi.
Hendra menegaskan bahwa seluruh proses buyback tetap mengikuti prinsip tata kelola perusahaan yang baik serta mematuhi ketentuan regulator pasar modal.
Kinerja Keuangan BCA Tetap Tumbuh pada Kuartal Pertama 2026
Di tengah tekanan harga saham, BCA justru membukukan pertumbuhan kinerja yang solid pada kuartal I/2026. Hingga Maret 2026, laba bersih konsolidasian BCA mencapai Rp14,68 triliun atau tumbuh 3,83 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang mencapai Rp21,15 triliun. Selain itu, pendapatan berbasis komisi, provisi, fee, dan administrasi juga meningkat menjadi Rp5,06 triliun.
Dari sisi intermediasi, BCA menyalurkan kredit sebesar Rp994 triliun atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan. Momentum Ramadan dan Idulfitri turut membantu peningkatan aktivitas pembiayaan selama kuartal pertama.
Sementara itu, dana pihak ketiga BCA juga meningkat 8,3 persen menjadi Rp1.292,4 triliun. Komposisi dana murah atau CASA tetap mendominasi struktur pendanaan perseroan dengan porsi 85,2 persen.
Analis Tetap Melihat Prospek Jangka Panjang Saham BBCA
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, memastikan pencapaian kuartal pertama masih sejalan dengan rencana bisnis bank sepanjang 2026. Perseroan juga terus memantau perkembangan ekonomi dan permintaan kredit dalam sembilan bulan ke depan.
Di sisi lain, analis masih melihat prospek jangka panjang saham BBCA tetap menarik meskipun tekanan jangka pendek masih berlangsung. Sentimen MSCI, pelemahan rupiah, dan arus keluar dana asing menjadi faktor utama yang membebani pergerakan saham perbankan.
Analis BRI Danareksa Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk saham BBCA dengan target harga Rp10.900. Mereka menilai valuasi BBCA saat ini sudah berada pada level menarik dengan potensi penurunan yang semakin terbatas.
