Saham OASA Melonjak Tajam Setelah Investor Menangkap Potensi Besar Proyek Waste to Energy

JAKARTA — Saham PT Maharaksa Biru Energi Tbk. atau OASA terus mencuri perhatian pasar setelah mencatat kenaikan 50,76 persen secara year to date hingga penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, di level Rp398 per saham. Lonjakan tersebut muncul seiring meningkatnya optimisme investor terhadap pengembangan proyek waste to energy atau WTE yang saat ini menjadi fokus utama perseroan.
Kenaikan harga saham itu mencerminkan keyakinan pasar bahwa proyek pengolahan sampah menjadi energi dapat membuka sumber pendapatan baru bagi perusahaan. Meski demikian, OASA masih menghadapi tantangan karena kinerja keuangan perseroan belum sepenuhnya pulih.
Berdasarkan laporan keuangan terbaru, OASA membukukan rugi bersih Rp13,32 miliar selama periode Januari hingga September 2025. Pada saat yang sama, pendapatan perusahaan juga turun menjadi Rp30,65 miliar dari sebelumnya Rp50,59 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Penurunan tersebut terjadi karena segmen WTE belum menghasilkan kontribusi pendapatan. Proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik yang berada di Tangerang Selatan dan Jakarta Barat masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memasuki fase operasional.
Proyek PSEL Mendorong Proyeksi Pertumbuhan Jangka Panjang OASA
Analis Samuel Sekuritas Indonesia, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, menilai proyek pembangkit listrik tenaga sampah atau PSEL akan menjadi motor pertumbuhan utama OASA dalam jangka panjang.
Menurut hasil riset mereka, proyek Tangerang Selatan berpotensi menghasilkan tambahan EBITDA sekitar Rp250 miliar atau setara US$14,4 juta apabila mampu beroperasi pada tingkat utilisasi 80 persen pada 2029. Proyeksi tersebut membuka peluang bagi perseroan untuk mengubah posisi rugi menjadi laba bersih positif.
Untuk mewujudkan target tersebut, OASA diperkirakan membutuhkan pendanaan sekitar US$74 juta. Kebutuhan dana itu terdiri dari US$52 juta pembiayaan utang dan US$22 juta melalui skema ekuitas atau rights issue.
Di proyek Tangerang Selatan, OASA menguasai kepemilikan 76 persen dengan kapasitas pengolahan sekitar 1.100 ton sampah per hari dan produksi listrik sekitar 25 megawatt. Sementara itu, di proyek Jakarta Barat, perseroan memiliki porsi 28 persen dengan kapasitas sekitar 2.000 ton sampah per hari.
Kedua proyek tersebut diproyeksikan mulai beroperasi pada akhir 2028.
Regulasi Baru Memperkuat Peluang Ekspansi OASA
Selain dukungan proyek, OASA juga memperoleh sentimen positif dari kebijakan pemerintah. Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 memberikan kepastian tarif listrik tetap sebesar US$0,20 per kWh dan skema perjanjian jual beli listrik selama 30 tahun.
Kebijakan tersebut memperbaiki keekonomian proyek sekaligus mengurangi risiko investasi. Selain itu, dukungan dari pemerintah daerah, PLN, dan Danantara juga memperkuat peluang eksekusi proyek.
Untuk memperluas bisnis, OASA juga aktif mengikuti gelombang kedua tender proyek WTE nasional. Setelah PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk. mengakuisisi 20 persen saham anak usaha OASA, posisi perseroan dinilai semakin kuat untuk menangkap peluang proyek baru.
Direktur Utama OASA Bobby Gafur Umar sebelumnya menyatakan perusahaan telah menjalin kesepahaman awal dengan Grandblue Environment Co., Ltd., perusahaan pengolah sampah asal China, untuk memperkuat pengembangan konsorsium proyek WTE di Indonesia.
