Pengamat Menilai Demutualisasi BEI Memperkuat Tata Kelola Bursa

Pengamat Mengarahkan Demutualisasi BEI untuk Memperkuat Independensi
Wacana demutualisasi Bursa Efek Indonesia dinilai lebih tepat jika diarahkan untuk memperkuat tata kelola dan meningkatkan independensi lembaga bursa. Pengamat pasar modal menilai kebijakan tersebut tidak dirancang sebagai solusi langsung untuk menekan praktik saham gorengan.
Guru Besar Universitas Indonesia sekaligus pengamat pasar modal Budi Frensidy menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta pada Jumat, 12 Desember 2025. Ia menegaskan demutualisasi akan efektif apabila fokus utamanya memperbaiki struktur pengelolaan BEI agar lebih profesional dan bebas dari konflik kepentingan.
Pengamat Menyoroti Risiko Konflik Kepentingan
Budi menilai risiko utama yang perlu diantisipasi terletak pada potensi konflik kepentingan. Ia menekankan pentingnya pemisahan peran antara pengelola bursa dan pemegang saham yang berasal dari perusahaan sekuritas.
Menurutnya, struktur kepemilikan yang tidak dikelola secara transparan berpotensi menimbulkan situasi di mana pelaku industri mengawasi aktivitasnya sendiri. Oleh karena itu, ia mendorong perumusan kerangka demutualisasi yang mampu memperkuat independensi BEI sebagai regulator pasar.
BEI Menjaga Independensi di Tengah Dinamika Pasar
Saat ini, BEI sudah beroperasi sebagai lembaga yang relatif independen. Namun, seiring meningkatnya kompleksitas pasar modal dan bertambahnya jumlah investor, kebutuhan akan tata kelola yang lebih terbuka dan akuntabel semakin menguat.
Perubahan struktur melalui demutualisasi diharapkan mampu menyesuaikan BEI dengan dinamika tersebut, tanpa menggeser fungsi utama bursa sebagai penyelenggara perdagangan efek yang adil dan transparan.
BEI Menegaskan Demutualisasi sebagai Aksi Pemegang Saham
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menjelaskan bahwa demutualisasi bukan merupakan aksi korporasi. Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan aksi pemegang saham yang bergantung pada kajian regulasi dan rancangan peraturan pemerintah.
Jeffrey menyampaikan pernyataan tersebut kepada media di Jakarta pada Senin, 24 November 2025. Ia menyebut BEI masih mempelajari arah kebijakan pemerintah untuk memastikan implementasinya selaras dengan kepentingan pasar modal nasional.
BEI Menyelaraskan Demutualisasi dengan Visi 2030
BEI menilai wacana demutualisasi tetap sejalan dengan visi jangka panjang lembaga tersebut. BEI menargetkan posisi sebagai bursa terbaik ke-10 di dunia pada 2030 melalui penguatan tata kelola, peningkatan kepercayaan investor, dan pengembangan infrastruktur pasar.
Dengan pendekatan tersebut, demutualisasi diharapkan menjadi instrumen reformasi kelembagaan yang mendukung pertumbuhan pasar modal secara berkelanjutan, bukan sekadar respons terhadap isu saham gorengan.
