Harga Emas Berfluktuasi dan Buka Peluang Akumulasi Saham Tambang

Harga emas dunia bergerak fluktuatif di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ketidakpastian arah kebijakan suku bunga global. Kondisi tersebut mendorong pelaku pasar melakukan aksi ambil untung pada saham-saham emiten pertambangan logam mulia.
Pada perdagangan Senin, 13 April 2026, harga emas berjangka kontrak satu ons di bursa Comex tercatat melemah sekitar 49 poin atau turun 1,02% ke level US$4.738,50 per troy ounce. Penurunan ini mencerminkan tekanan jangka pendek yang terjadi seiring perubahan sentimen global.
Sejalan dengan pergerakan tersebut, sejumlah saham tambang emas di Bursa Efek Indonesia turut mengalami koreksi. Saham PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) turun 2,17% ke level Rp3.150 per saham. Sementara itu, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) melemah 1,98% ke Rp2.480 dan PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) terkoreksi 1,85% menjadi Rp7.975.
Namun demikian, tidak semua saham berada di zona merah. PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) masih mencatat kenaikan 2,96% ke level Rp870, sedangkan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) menguat 1,08% ke Rp3.750 per saham. Perbedaan kinerja ini menunjukkan selektivitas pasar terhadap emiten dengan fundamental tertentu.
Analis Menilai Normalisasi Harga Emas Sedang Berlangsung
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk., Banjaran Surya Indrastomo, menyatakan harga emas saat ini memasuki fase normalisasi setelah sebelumnya menyentuh level psikologis tinggi pada akhir Maret 2026. Menurutnya, pergerakan emas sangat dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan suku bunga global, khususnya dari bank sentral Amerika Serikat.
Ia menjelaskan bahwa inflasi Amerika Serikat yang mencapai 3,3% secara tahunan pada Maret 2026 turut mendorong kenaikan yield US Treasury. Kondisi ini meningkatkan opportunity cost emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, penguatan dolar AS juga memberi tekanan tambahan terhadap harga emas karena membuat komoditas tersebut menjadi lebih mahal bagi investor global. Faktor ini turut memicu penurunan permintaan dalam jangka pendek.
Permintaan Global Menopang Prospek Emas Jangka Panjang
Meski menghadapi tekanan jangka pendek, prospek emas dalam jangka panjang dinilai tetap solid. Analis menilai permintaan fisik dari bank sentral di berbagai negara menjadi penopang utama harga.
Aktivitas akumulasi cadangan devisa serta meningkatnya kebutuhan diversifikasi di tengah ketidakpastian sistem keuangan global turut menjaga daya tarik emas. Selain itu, aliran dana ke instrumen investasi berbasis emas seperti ETF juga masih menunjukkan tren positif hingga awal 2026.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, menegaskan bahwa permintaan fisik global tetap menjadi fondasi kuat bagi harga emas. Oleh karena itu, volatilitas yang terjadi saat ini lebih mencerminkan dinamika jangka pendek dibandingkan perubahan fundamental.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar melihat koreksi harga sebagai peluang untuk melakukan akumulasi pada saham-saham tambang emas yang memiliki fundamental kuat. Namun, arah pergerakan selanjutnya tetap bergantung pada perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global.
