Kebuntuan Negosiasi AS-Iran Dorong Harga Minyak Dunia Melonjak dan Angkat Saham Migas

Kegagalan perundingan antara Amerika Serikat dan Iran langsung memicu lonjakan harga minyak global dan mendorong penguatan saham sektor energi di pasar domestik. Sentimen geopolitik ini kembali menjadi penggerak utama pasar, terutama bagi emiten minyak dan gas.
Pada perdagangan Senin, 13 April 2026, harga minyak Brent melonjak 8,55% hingga menembus US$102,30 per barel. Kenaikan tajam ini terjadi setelah negosiasi kedua negara tidak mencapai kesepakatan, sehingga memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global.
Saham Migas Dalam Negeri Menguat Seiring Lonjakan Harga Minyak
Sejalan dengan kenaikan harga minyak dunia, saham-saham migas di Bursa Efek Indonesia bergerak menguat sejak awal perdagangan. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) mencatat kenaikan 3,54% ke Rp1.610, sementara PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) naik 2,05% ke Rp1.740.
Selain itu, penguatan juga terlihat pada PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang naik 1,08% ke Rp1.405 dan PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang menguat 2,17% ke Rp705. Saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS), PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA), dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) turut mengikuti tren positif tersebut.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa sektor energi menjadi salah satu penerima manfaat langsung dari lonjakan harga komoditas global.
Analis Susun Skenario Kenaikan Harga Minyak Berdasarkan Eskalasi Konflik
BRI Danareksa Sekuritas memetakan tiga skenario pergerakan harga minyak berdasarkan tingkat eskalasi konflik antara AS dan Iran. Dalam skenario ringan, harga Brent diperkirakan bergerak di kisaran US$80 hingga US$90 per barel.
Namun, jika gangguan berlangsung lebih lama, harga berpotensi naik ke level US$105 hingga US$115 per barel. Bahkan, dalam skenario terburuk dengan gangguan berkepanjangan di jalur distribusi seperti Selat Hormuz, harga minyak dapat melonjak hingga US$110 sampai US$135 per barel.
Proyeksi ini menegaskan bahwa ketidakpastian geopolitik memiliki pengaruh besar terhadap dinamika harga energi global.
Analis Rekomendasikan Saham MEDC dan ENRG sebagai Pilihan Utama
Berdasarkan prospek tersebut, analis menilai saham sektor hulu migas berpotensi mencatat kinerja lebih baik dibandingkan sektor lainnya dalam beberapa bulan ke depan. BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan MEDC sebagai pilihan utama dengan target harga Rp2.000.
Rekomendasi ini didukung oleh proyeksi produksi perusahaan yang ditargetkan mencapai 165.000 hingga 170.000 barel setara minyak per hari pada 2026. Selain itu, sensitivitas laba terhadap kenaikan harga minyak dinilai menjadi keunggulan utama emiten tersebut.
Di sisi lain, Indo Premier Sekuritas menjagokan ENRG dengan target harga Rp1.925. Analis menilai tren kenaikan harga minyak global menjadi katalis positif yang memperkuat pergerakan saham tersebut.
Konflik Berkepanjangan Berpotensi Tekan IHSG Meski Sektor Energi Menguat
Meski sektor migas mendapatkan sentimen positif, konflik yang berkepanjangan justru berpotensi memberikan tekanan terhadap indeks secara keseluruhan. Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan kekhawatiran investor dan memicu volatilitas pasar.
Apalagi, IHSG sebelumnya sedang berada dalam fase pemulihan dengan kenaikan signifikan dalam sepekan terakhir. Keberlanjutan tren tersebut sangat bergantung pada stabilitas global serta arus dana yang masuk ke pasar domestik.
Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga minyak tidak selalu berdampak positif secara menyeluruh, terutama jika disertai risiko gangguan distribusi energi di kawasan strategis seperti Selat Hormuz.
