IHSG Dibuka Anjlok 1,33% di Tengah Tekanan Geopolitik Global

Pasar Saham Melemah Sejak Pembukaan Perdagangan Pagi
Indeks Harga Saham Gabungan langsung terkoreksi tajam saat pembukaan perdagangan pada Senin, 13 April 2026. IHSG turun 99,01 poin atau setara 1,33% ke posisi 7.359,49 di awal sesi, mencerminkan tekanan kuat dari sentimen global.
Mayoritas saham bergerak di zona merah dengan 360 saham melemah, sementara 147 saham menguat dan 452 saham stagnan. Aktivitas perdagangan tercatat mencapai Rp667,4 miliar dengan volume 1,41 miliar saham dari 116.900 transaksi. Seiring pelemahan tersebut, kapitalisasi pasar menyusut hingga sekitar Rp13.000 triliun.
Ketegangan Geopolitik Memicu Tekanan di Bursa
Tekanan terhadap pasar domestik muncul seiring meningkatnya ketidakpastian global, khususnya terkait konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan rencana pemblokiran Selat Hormuz setelah perundingan damai dengan Iran mengalami kebuntuan.
Pernyataan tersebut langsung mengguncang pasar karena Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi energi dunia. Amerika Serikat melalui U.S. Central Command menyatakan akan mulai menerapkan blokade terhadap kapal yang terhubung dengan Iran mulai Senin waktu setempat.
Langkah ini memicu kekhawatiran baru terhadap stabilitas ekonomi global, mengingat sekitar seperlima pasokan minyak dunia melintasi jalur tersebut. Selain itu, rencana Iran untuk mengenakan tarif bagi kapal yang melintas semakin memperkeruh situasi dan meningkatkan risiko konflik berkepanjangan.
Pasar Global Bergejolak dan Harga Minyak Tertekan
Ketegangan yang terus meningkat menyebabkan volatilitas tinggi di pasar keuangan global. Harga minyak sempat melonjak hingga menembus level di atas US$100 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Selain itu, kegagalan perundingan damai yang dimediasi Pakistan semakin memperkecil peluang tercapainya gencatan senjata dalam waktu dekat. Negosiasi tersebut berlangsung lebih dari 21 jam, namun berakhir tanpa kesepakatan, terutama karena perbedaan kepentingan terkait program nuklir dan kontrol wilayah strategis.
Situasi ini membuat pelaku pasar cenderung bersikap defensif, termasuk di pasar saham Indonesia yang langsung merespons sentimen negatif global.
Data Konsumsi Domestik Memberi Sinyal Awal Pemulihan
Di tengah tekanan eksternal, pelaku pasar juga mencermati rilis data ekonomi domestik. Bank Indonesia merilis Survei Penjualan Eceran yang menjadi indikator awal pergerakan konsumsi rumah tangga.
Bank Indonesia memperkirakan Indeks Penjualan Riil pada Februari 2026 tumbuh 6,9% secara tahunan, meningkat dari 5,7% pada Januari. Secara bulanan, penjualan diproyeksikan naik 4,4% setelah sebelumnya mengalami kontraksi.
Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan selama Ramadan dan persiapan Idulfitri, terutama pada kelompok barang seperti sandang, perlengkapan rumah tangga, serta suku cadang dan aksesori.
Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian apakah peningkatan konsumsi tersebut bersifat musiman atau mencerminkan penguatan daya beli yang lebih berkelanjutan.
