Bursa Efek Indonesia Kembali Membuka Perdagangan Usai Libur Hari Buruh

JAKARTA — Bursa Efek Indonesia menjadwalkan kembali aktivitas perdagangan saham pada Senin, 4 Mei 2026, setelah pasar modal nasional menghentikan transaksi selama libur Hari Buruh Internasional pada Jumat, 1 Mei 2026. Jadwal tersebut mengikuti kalender resmi perdagangan yang dipublikasikan oleh Bursa Efek Indonesia.
Libur pasar pada awal Mei membuat investor menahan sejumlah aksi transaksi sambil menunggu pembukaan perdagangan pekan berikutnya. Di tengah jeda perdagangan tersebut, pelaku pasar tetap mencermati berbagai sentimen global dan domestik yang diperkirakan memengaruhi arah pergerakan indeks.
IHSG Melemah Menjelang Penutupan Perdagangan Sebelum Libur
Menjelang libur panjang, Indeks Harga Saham Gabungan mengalami tekanan pada sesi perdagangan Kamis, 30 April 2026. IHSG tercatat turun 0,87 persen atau 61,55 poin ke level 7.039,67.
Sepanjang sesi perdagangan, indeks sempat bergerak di rentang 7.022,37 hingga 7.109. Data perdagangan menunjukkan sebanyak 194 saham bergerak menguat, sementara 405 saham melemah dan 124 saham lainnya tidak mengalami perubahan.
Pada saat yang sama, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai Rp12.563,35 triliun. Pergerakan tersebut menunjukkan tekanan jual masih mendominasi menjelang libur pasar.
Saham Kapitalisasi Besar Menekan Pergerakan Indeks
Koreksi IHSG kali ini dipicu pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar. Saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) turun 3,20 persen ke level Rp1.665. Kemudian saham PT Bayan Resources Tbk. (BYAN) juga melemah 2,17 persen ke posisi Rp11.250.
Tekanan berlanjut pada saham PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang turun 1,90 persen. Selain itu, saham PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) terkoreksi 1,89 persen, sedangkan saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) melemah 1,67 persen.
Pelemahan saham-saham unggulan tersebut memberi tekanan signifikan terhadap laju indeks selama perdagangan berlangsung.
Saham Lapis Dua Mencatat Lonjakan di Tengah Tekanan Pasar
Meski indeks utama bergerak negatif, sejumlah saham lapis dua justru mencatat penguatan tajam. Saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk. (PSDN) melesat 29,90 persen ke level Rp252.
Selain itu, saham PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) juga melonjak 24,18 persen menjadi Rp226 per saham. Di sisi lain, saham PT Gunawan Dianjaya Steel Tbk. (JAWA) menjadi top losers setelah turun 6,96 persen ke level Rp107, sementara saham PT Layland International Tbk. (LAPD) terkoreksi 5,77 persen.
Analis Mencermati Peluang Rebound dan Sentimen Global
Tim riset Phintraco Sekuritas melihat indikator teknikal IHSG menunjukkan pola death cross antara MA5 dan MA20. Kondisi tersebut diperkuat pelebaran negatif pada histogram MACD yang mencerminkan tekanan jangka pendek.
Namun demikian, analis juga melihat peluang technical rebound masih terbuka. Indikator stochastic RSI menunjukkan kondisi oversold yang biasanya membuka ruang pemulihan harga dalam jangka pendek.
Pelaku pasar kini mengalihkan perhatian pada keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat serta pernyataan Ketua The Fed. Selain itu, investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat, termasuk building permits, durable goods orders, housing starts, indeks harga PCE, dan data produk domestik bruto kuartal pertama 2026.
Dari dalam negeri, investor tetap mencermati laporan keuangan emiten kuartal I/2026 serta aksi korporasi seperti pembagian dividen dan rights issue yang berpotensi menjadi penggerak pasar dalam beberapa pekan ke depan.
