Pasar Keuangan Indonesia Menunggu Keputusan The Fed

IHSG Koreksi Sementara Rupiah Terapresiasi
Jakarta, CNBC Indonesia — Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan Selasa (9/12/2025) dengan kinerja beragam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi sebesar 0,61% atau 53,51 poin ke level 8.657,18 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada sesi sebelumnya. Bursa bergerak fluktuatif, menguat sementara ke level 8.749,26 sebelum turun kembali memasuki zona merah.
Mayoritas Saham Turun dan Transaksi Capai Rp 26 Triliun
Sebanyak 452 saham tercatat turun, 262 naik, dan 243 stagnan dengan nilai transaksi mencapai Rp 26,03 triliun melalui 3,09 juta kali transaksi. Investor menyoroti saham Bumi Resources (BUMI) dengan nilai transaksi Rp 6,41 triliun, Dharma Henwa (DEWA) Rp 3,29 triliun, dan Solusi Sinergi Digital (WIFI) Rp 1,98 triliun. Hampir seluruh sektor berada di zona merah, terutama bahan baku turun 1,41%, properti 1,38%, dan finansial 1,07%.
Rupiah Menguat Menjelang Pengumuman Kebijakan The Fed
Pasar valas mencatatkan apresiasi rupiah terhadap dolar AS, ditutup di Rp16.660/US$ atau terapresiasi 0,15%. Rupiah bergerak volatil di rentang Rp16.654–Rp16.695/US$ sepanjang perdagangan. Indeks dolar AS (DXY) hanya menguat tipis 0,01% ke level 99,095. Penguatan rupiah didorong oleh sikap wait and see pelaku pasar global menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Federal Open Market Committee (FOMC) yang akan diumumkan Rabu malam waktu AS atau Kamis dini hari di Indonesia.
Pasar Obligasi dan SBN Tetap Stabil
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun stagnan di 6,24%, mencerminkan kondisi wait and see investor menunggu kepastian arah kebijakan moneter global. Pelaku pasar menahan posisi dan menyesuaikan strategi sambil menantikan keputusan The Fed yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar domestik dan global.
