BEI Ucapkan Terima Kasih atas Dukungan Prabowo Usai IHSG Rontok Imbas Peringatan MSCI

JAKARTA – Pimpinan Bursa Efek Indonesia merespons kemarahan Presiden Prabowo Subianto terkait anjloknya Indeks Harga Saham Gabungan akibat peringatan dari Morgan Stanley Capital International. BEI menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah sekaligus memastikan percepatan reformasi pasar modal.
Pejabat sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, menyatakan pihaknya berterima kasih atas perhatian dan dukungan yang diberikan pemerintah. Ia menyampaikan hal itu kepada wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
Jeffrey menegaskan dukungan tersebut menjadi dorongan bagi jajaran baru BEI dan Otoritas Jasa Keuangan untuk segera menjalankan langkah-langkah strategis. Ia memastikan manajemen akan mempercepat berbagai agenda pembenahan demi memperkuat kepercayaan pasar.
Hashim Ungkap Prabowo Marah Besar Saat IHSG Anjlok
Sebelumnya, Utusan Khusus Presiden untuk Energi dan Lingkungan, Hashim Djojohadikusumo, mengungkapkan kemarahan Prabowo saat IHSG merosot tajam pada akhir Januari. Ia menyampaikan pernyataan itu dalam forum ASEAN Climate Forum di Main Hall BEI, Jakarta, Rabu 11 Februari 2026.
Hashim menyebut Prabowo menilai peringatan MSCI berpotensi mencoreng kehormatan Indonesia di mata global. Selain itu, ia menyoroti kerugian investor ritel serta reputasi otoritas pasar modal yang ikut dipertaruhkan. Pemerintah, kata Hashim, akan memperketat pengawasan terhadap otoritas pasar modal guna menjaga kredibilitas negara.
IHSG Sempat Anjlok Lebih dari 7 Persen dan Alami Trading Halt
Tekanan pasar muncul setelah MSCI menyoroti aspek kepemilikan saham dan free float di Indonesia. Pada Rabu 28 Januari 2026, IHSG melemah hingga 7,35% ke level 8.320,55. Bursa bahkan menghentikan sementara perdagangan atau trading halt pada sesi II hari itu.
Kondisi serupa kembali terjadi pada Kamis 29 Januari 2026 ketika IHSG turun 8% di sesi I sehingga BEI kembali memberlakukan trading halt. Meski demikian, indeks berhasil memangkas pelemahan dan ditutup turun 1,06% ke level 8.232,20.
MSCI memberikan waktu hingga Mei 2026 bagi otoritas pasar modal Indonesia untuk memenuhi aspek transparansi yang dipersoalkan. Jika perbaikan tidak terealisasi, lembaga indeks global tersebut membuka kemungkinan menurunkan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.
