IHSG Berpeluang Menguat dan Menguji Area 8.700 pada Perdagangan Selasa

JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan berpeluang melanjutkan penguatan pada perdagangan Selasa, 23 Desember 2025, setelah menutup sesi sebelumnya di zona hijau. Sentimen teknikal yang mulai membaik serta dukungan faktor global dan domestik membuka peluang IHSG untuk bergerak menguji area resistensi terdekat.
Pada perdagangan Senin, 22 Desember 2025, IHSG menutup sesi dengan penguatan 36,2 poin atau 0,4 persen ke level 8.645,8. Penguatan indeks terjadi di tengah pergerakan sektoral yang bervariasi, dengan sektor energi memimpin kenaikan dan sektor teknologi mencatatkan pelemahan terdalam.
Analis Menilai Sinyal Teknikal Mulai Mendukung Penguatan IHSG
Phintraco Sekuritas menilai pergerakan IHSG menunjukkan indikasi teknikal yang semakin konstruktif. Secara teknikal, IHSG memang ditutup di bawah rata-rata pergerakan lima hari, namun masih bertahan di atas MA20. Kondisi ini menunjukkan tekanan jual mulai mereda.
Stochastic RSI tercatat masih berada di area oversold, sementara volume beli mulai menunjukkan peningkatan. Dengan kombinasi tersebut, Phintraco Sekuritas memproyeksikan IHSG berpotensi bergerak menguat dan menguji area 8.680 hingga 8.700 pada perdagangan Selasa.
Pelemahan Rupiah dan Geopolitik Global Mewarnai Pergerakan Pasar
Di sisi makro, nilai tukar rupiah kembali melemah di pasar spot dan ditutup di level Rp 16.777 per dolar AS pada Senin. Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS yang dipicu meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela.
Situasi geopolitik tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dan emas dunia. Kondisi ini memberikan sentimen campuran bagi pasar saham domestik, terutama pada saham berbasis komoditas.
Likuiditas Domestik Menguat dan Kebijakan China Jadi Perhatian Pasar
Dari dalam negeri, pertumbuhan jumlah uang beredar dalam arti luas atau M2 pada November 2025 tercatat tumbuh 8,3 persen secara tahunan. Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Oktober yang sebesar 7,7 persen. Kenaikan M2 didorong oleh peningkatan tabungan rupiah, penyaluran kredit, tagihan bersih kepada pemerintah, serta aktiva luar negeri bersih.
Sementara itu dari China, bank sentral setempat mempertahankan suku bunga pinjaman tenor satu tahun dan lima tahun masing-masing di level 3 persen dan 3,5 persen. Kebijakan ini menegaskan sikap hati-hati otoritas moneter China dalam memberikan stimulus tambahan.
Pelaku Pasar Mencermati Data Ekonomi Amerika Serikat
Dari Amerika Serikat, pelaku pasar menanti rilis data Durable Goods Orders Oktober 2025 yang diperkirakan tumbuh 0,3 persen. Selain itu, pasar juga mencermati rilis estimasi kedua pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2025 yang diperkirakan mengonfirmasi ekspansi sebesar 3,2 persen.
Dengan mempertimbangkan berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas merekomendasikan saham BUMI, DEWA, ESSA, ADMR, dan INDY untuk strategi trading pada perdagangan Selasa.
