Emiten Genjot Rights Issue untuk Penuhi Free Float di Tengah Tekanan Likuiditas

Emiten menggalang dana lewat rights issue demi memenuhi batas free float 15 persen
Sejumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia mulai mempercepat aksi penambahan modal melalui rights issue guna memenuhi ketentuan free float minimal 15 persen. Langkah ini sekaligus menjadi strategi untuk memperkuat struktur permodalan di tengah kondisi likuiditas pasar yang belum stabil.
Data terbaru menunjukkan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) menjadi salah satu emiten yang agresif dengan rencana penerbitan hingga 86,70 miliar saham baru. Selain itu, PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) juga menyiapkan rights issue dengan target 50 miliar saham baru yang akan digunakan untuk mendukung ekspansi usaha dan belanja modal.
Di sisi lain, PT Multitrend Indo Tbk. (BABY) turut mengambil langkah serupa dengan menerbitkan 238,59 juta saham baru pada harga Rp590 per lembar. Perusahaan ini mengarahkan dana hasil aksi korporasi untuk kebutuhan akuisisi dan pengembangan bisnis.
Analis menilai likuiditas pasar menjadi tantangan utama penyerapan saham baru
Di tengah maraknya rights issue, analis menyoroti kondisi likuiditas pasar yang masih fluktuatif sehingga berpotensi memengaruhi daya serap investor. Equity Research Analyst Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, menilai regulator perlu menjaga keseimbangan antara peningkatan free float dan stabilitas pasar.
Ia menegaskan bahwa kebijakan yang terlalu agresif tanpa dukungan likuiditas dapat menekan pasar. Oleh karena itu, pendekatan fleksibel dan selektif menjadi kunci agar aksi korporasi tetap mendorong pertumbuhan pasar yang sehat.
Selain itu, analis juga melihat bahwa keberhasilan rights issue sangat bergantung pada kualitas fundamental emiten serta kejelasan penggunaan dana. Emiten dengan rencana ekspansi yang solid cenderung lebih diminati investor dibandingkan perusahaan yang hanya berfokus pada restrukturisasi utang.
Regulator didorong memberi insentif sekaligus peringatan bagi emiten
Sementara itu, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menilai regulator perlu mengambil peran lebih tegas dalam mengawasi aksi rights issue. Ia mendorong adanya validasi ketat terhadap tujuan penggunaan dana agar tidak sekadar menjadi instrumen rekayasa keuangan.
Menurutnya, regulator dapat memberikan insentif kepada emiten yang berhasil meningkatkan free float secara signifikan. Namun, di sisi lain, peringatan perlu diberikan kepada perusahaan yang berulang kali melakukan rights issue tanpa perbaikan fundamental bisnis.
Dengan kondisi pasar yang masih dinamis, kombinasi antara kebijakan yang adaptif dan disiplin emiten dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus memperkuat pasar modal domestik.
