Saham Konglomerat Memimpin Kinerja IHSG Sepanjang 2025
Pasar Saham Menjadikan Saham Konglomerat sebagai Top Leaders Tahun Ini
Pasar saham menjadikan saham terafiliasi konglomerat sebagai primadona sepanjang 2025. Saham PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) konsisten menempati jajaran top leaders Indeks Harga Saham Gabungan sejak awal tahun. Kenaikan harga yang signifikan membuat investor mulai menimbang ulang prospek dan valuasi saham-saham tersebut menjelang 2026.
Analis ekuitas PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menilai lonjakan harga yang agresif mendorong investor bersikap lebih selektif. Investor kini mengukur kelayakan harga saham untuk akumulasi lanjutan dengan mempertimbangkan kekuatan fundamental dan arah tren pergerakan harga.
Investor Mencermati Perubahan Tren Saham DCII dan MORA
Investor mulai mencermati perubahan tren pada saham DCII yang memasuki fase pelemahan. Meski laba bersih kuartal III/2025 tumbuh signifikan secara tahunan, pergerakan harga DCII stagnan dan melemah. Kondisi ini menunjukkan momentum beli mulai berkurang. Pada perdagangan Kamis, 11 Desember 2025, saham DCII bertahan di level Rp244.750, terkoreksi 6,52 persen dalam sebulan, meski melonjak 481,35 persen secara year to date.
Sementara itu, saham MORA mencatat lonjakan ekstrem sepanjang tahun. Harga saham MORA mencapai Rp11.950, mencerminkan kenaikan 2.442,55 persen sejak awal tahun. Namun, tekanan jual muncul pada perdagangan terakhir setelah saham ini terkoreksi hampir 15 persen dalam sehari. David menilai kecepatan kenaikan harga MORA terlalu tinggi dibandingkan pertumbuhan laba, sehingga membuka peluang harga mencapai puncaknya.
Saham BUMI Menarik Perhatian Lewat Aksi Harga Agresif
Berbeda dengan DCII dan MORA, saham BUMI masih menunjukkan tren penguatan. Saham ini ditutup naik 10,43 persen ke level Rp360 pada Kamis, 11 Desember 2025. Dalam sebulan, harga BUMI melonjak 140 persen dan menguat lebih dari 200 persen sejak awal tahun. Meski laba bersih perusahaan justru menyusut secara tahunan, pergerakan harga dan volume besar mengindikasikan aliran dana kuat masih masuk ke saham ini.
Valuasi Premium Membuat Investor Mengandalkan Analisis Teknikal
Lonjakan harga saham konglomerat mendorong valuasi menjadi sangat premium. Rasio valuasi saham-saham top leaders berada jauh di atas rata-rata pasar. David menilai kondisi tersebut membuat pendekatan fundamental kurang relevan untuk jangka pendek. Investor cenderung mengandalkan analisis teknikal dan pergerakan dana untuk membaca peluang lanjutan.
Ia menegaskan setiap saham memiliki siklusnya sendiri. Saham yang mencetak keuntungan besar pada 2025 belum tentu melanjutkan tren yang sama pada 2026, terutama jika kenaikan harga tidak sejalan dengan pertumbuhan kinerja keuangan.
