Analis Menilai Saham Konglomerat Menyaring Prospek Menuju 2026

Pasar Menguji Ketahanan Reli Saham Konglomerat
Reli saham konglomerasi mendominasi pasar sepanjang 2025 dan mengangkat sejumlah emiten menjadi saham premium. Memasuki 2026, pelaku pasar mulai menguji ketahanan fundamental masing-masing saham seiring meredanya momentum pada sebagian emiten.
Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan jajaran pemimpin kinerja 2025 diisi saham-saham besar seperti CUAN dan BRPT dari grup Prajogo Pangestu, DSSA milik Sinar Mas, DCII milik Otto Toto Sugiri, serta BRMS dan BUMI yang berafiliasi dengan Grup Bakrie. Meski demikian, analis menilai keberlanjutan reli tidak akan merata.
Analis Menyaring Saham yang Bertahan di 2026
Head of Research KISI Sekuritas Muhammad Wafi menilai hanya sebagian saham premium yang mampu mempertahankan performa pada 2026. Ia menegaskan emiten yang ditopang ekspansi bisnis dan pertumbuhan laba per saham memiliki peluang lebih besar dibanding saham yang reli karena likuiditas semata.
Wafi menjelaskan saham yang bergerak tanpa katalis baru cenderung memasuki fase distribusi dan menghadapi volatilitas tinggi. Ia menyebut contoh saham dengan valuasi yang telah terlalu mahal berpotensi kehilangan momentum ketika sentimen pasar berubah.
Narasi Akuisisi Menopang Saham Grup Bakrie
Di sisi lain, Wafi melihat saham Grup Bakrie masih menyimpan momentum jangka pendek. Ia menilai euforia narasi akuisisi mineral dan rotasi komoditas masih mendorong minat investor, meskipun valuasi sejumlah saham sudah berada di level tinggi.
Dalam sebulan terakhir, BUMI melonjak 85,86 persen dan mencatat kenaikan 211,86 persen secara year to date. BRMS naik 23,62 persen dalam sebulan dengan penguatan 255,49 persen sepanjang tahun. Saham ENRG dan DEWA juga membukukan reli tajam hingga ratusan persen.
Valuasi Premium Membatasi Daya Tarik Investasi
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menilai keberlanjutan saham premium sepenuhnya bergantung pada ekspektasi pasar. Ia menekankan narasi dan sentimen mampu mendorong harga, bahkan saat valuasi sudah mahal.
Namun, Nico menyoroti hampir seluruh saham top leaders berada di zona valuasi ekstrem. Price to earnings DCII mencapai 530 kali, MORA 850 kali, dan CUAN di atas 800 kali. Bahkan BUMI dan BRMS mencatatkan PE di atas 210 kali. Dengan kondisi tersebut, Nico menilai ruang investasi berbasis valuasi semakin sempit, meski peluang trading jangka pendek masih terbuka.
