Saham Rich Sparkle Anjlok 90%, Nilai Kesepakatan Khaby Lame Terancam Menyusut

Penurunan Tajam Saham Rich Sparkle Menekan Nilai Transaksi Khaby Lame
Jakarta — Kesepakatan bernilai hampir US$975 juta yang melibatkan bintang TikTok dunia, Khaby Lame, kini menghadapi tekanan serius setelah saham Rich Sparkle Holdings anjlok drastis. Dalam waktu singkat, harga saham perusahaan tersebut merosot sekitar 90% dari posisi sebelumnya.
Saham Rich Sparkle yang sempat melesat di atas US$180 kini jatuh ke kisaran US$11. Penurunan ini langsung memengaruhi potensi nilai transaksi yang akan diterima Khaby Lame, karena kompensasi dalam kesepakatan tersebut bergantung pada harga saham di pasar.
Dalam skema yang dirancang, perusahaan milik Lame akan memperoleh sekitar 75 juta saham baru dengan harga indikatif US$13 per saham. Namun, nilai riil dari saham tersebut sangat bergantung pada pergerakan harga pasar. Ketika harga saham jatuh tajam, nilai kekayaan yang diharapkan ikut tergerus.
Status Kesepakatan Belum Final dan Masih Menunggu Persetujuan
Meski tekanan terhadap valuasi semakin besar, kesepakatan tersebut belum resmi selesai. Hingga saat ini, transaksi masih menunggu persetujuan dari otoritas bursa, sehingga dampak terhadap kekayaan Lame masih bersifat potensi.
Situasi ini membuat nilai yang mungkin diterima Lame belum dapat dipastikan. Oleh karena itu, perkembangan harga saham ke depan akan menjadi faktor penentu utama dalam realisasi nilai transaksi tersebut.
Perusahaan Rancang Ekspansi AI dan E-Commerce Berbasis Popularitas Lame
Rich Sparkle merancang strategi ekspansi dengan memanfaatkan popularitas Khaby Lame melalui pengembangan avatar berbasis kecerdasan buatan. Perusahaan menargetkan integrasi teknologi tersebut untuk mendorong bisnis e-commerce dan endorsement global.
Manajemen bahkan memasang target ambisius dengan proyeksi penjualan hingga US$4 miliar per tahun. Namun, target tersebut memicu keraguan dari sejumlah analis yang menilai angka tersebut terlalu optimistis untuk pasar di luar China.
Pasalnya, pasar live commerce di Amerika Serikat dan wilayah lain belum menunjukkan pertumbuhan yang mampu mendukung target sebesar itu. Selain itu, capaian platform besar di pasar global masih jauh di bawah proyeksi tersebut.
Analis Menilai Model Bisnis Berbasis Influencer Mengandung Risiko Tinggi
Sejumlah analis menyoroti risiko besar dari model bisnis yang bertumpu pada satu figur publik. Ketergantungan pada popularitas individu dinilai membuat valuasi perusahaan sulit diukur dan rentan terhadap fluktuasi pasar.
Selain itu, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa tidak semua perusahaan berbasis influencer mampu bertahan setelah melantai di bursa. Proses mengubah popularitas media sosial menjadi bisnis publik berskala besar terbukti tidak mudah.
Kondisi ini memperbesar ketidakpastian terhadap masa depan kesepakatan dan kinerja saham perusahaan, terutama di tengah volatilitas pasar yang tinggi.
