JAKARTA — Investor asing kembali membukukan pembelian bersih atau net buy di pasar saham Indonesia pada pekan pertama September 2026. Arus dana tersebut mengiringi penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) saat pasar memasuki periode yang kerap mendapat perhatian melalui fenomena September Effect.
Berdasarkan data Weekly Statistics Bursa Efek Indonesia (BEI), investor asing membeli saham senilai Rp21,88 triliun pada perdagangan 1–4 September 2026. Pada periode yang sama, mereka menjual saham senilai Rp19,14 triliun sehingga mencatatkan net buy Rp2,74 triliun.
Kondisi itu berbalik dari perdagangan 31 Agustus 2026 ketika investor asing masih mencatatkan net sell Rp434,25 miliar. Bersamaan dengan perubahan arus dana tersebut, IHSG juga bergerak menguat.
IHSG Menguat 1,70 Persen pada Pekan Pertama September
IHSG menutup Agustus 2026 pada level 6.525,48. Kemudian, indeks mengakhiri perdagangan pekan pertama September pada level 6.636,48 atau naik sekitar 1,70 persen.
Meski demikian, hubungan antara arus dana asing dan pergerakan IHSG tidak selalu berjalan searah. Rekam jejak lima tahun terakhir menunjukkan investor asing bisa mencatatkan net buy ketika IHSG melemah, begitu pula IHSG tetap dapat menguat saat investor asing membukukan net sell.
Investor Asing Mencatatkan Arus Dana Beragam pada September 2021–2025
Pada September 2021, investor asing mencatatkan net buy Rp4,34 triliun. Pada periode yang sama, IHSG naik 4,06 persen dari 6.041,37 pada akhir Agustus menjadi 6.286,94 pada akhir September.
Setahun kemudian, investor asing kembali mencatatkan net buy Rp3,05 triliun. Namun, IHSG justru turun 1,92 persen dari 7.178,59 menjadi 7.040,80.
Pada September 2023, investor asing beralih mencatatkan net sell Rp4,06 triliun. IHSG juga melemah, meski hanya 0,19 persen.
Sementara itu, investor asing mencatatkan net buy terbesar dalam periode September 2021 hingga pekan pertama September 2026 pada September 2024. Mereka membukukan net buy Rp21,92 triliun, tetapi IHSG justru terkoreksi 1,86 persen dari 7.670,73 menjadi 7.527,93.
Kondisi kembali berubah pada September 2025. Investor asing mencatatkan net sell Rp3,80 triliun, tetapi IHSG malah menguat 2,94 persen dari 7.830,49 menjadi 8.061,06.
September Effect Membayangi Pergerakan IHSG
Data historis juga memperlihatkan pola September Effect dalam pergerakan IHSG. Sepanjang 11 periode September pada 2015–2025, IHSG melemah delapan kali dan hanya menguat tiga kali.
Tekanan paling dalam terjadi pada September 2020 ketika IHSG anjlok 7,04 persen dari 5.238,93 menjadi 4.870,04. Sebelumnya, September 2015 juga mencatatkan koreksi besar sebesar 6,34 persen.
Sebaliknya, IHSG mencatatkan kenaikan terbesar pada September 2021 dengan penguatan 4,06 persen. Indeks kemudian naik 2,94 persen pada September 2025 dan 0,63 persen pada September 2017.
Memasuki September 2026, IHSG sudah menguat 1,70 persen hingga akhir pekan pertama. Pada saat yang sama, investor asing kembali memasukkan dana bersih Rp2,74 triliun ke pasar saham Indonesia.
Namun, data tersebut belum cukup untuk memastikan IHSG akan terus menguat sepanjang September. Rekam jejak sebelumnya menunjukkan bahwa investor perlu melihat arus dana asing bersama dengan keseluruhan aktivitas perdagangan saham untuk membaca arah indeks.
