JAKARTA — IHSG kembali mendapat tekanan kuat pada perdagangan Jumat (11/9/2026). Indeks melemah lebih dari 1 persen seiring memburuknya sentimen pasar global dan kawasan Asia.
Tekanan utama datang dari eskalasi geopolitik yang mendorong harga minyak mentah menembus US$100 per barel. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan beban fiskal Indonesia sekaligus menekan rupiah hingga melewati level Rp17.600 per dolar AS.
Konflik Geopolitik Mendorong Harga Minyak Menembus US$100
Analisis MNCS Research menunjukkan bahwa konflik geopolitik yang kembali memanas meningkatkan risiko kenaikan harga energi. Harga minyak Brent bahkan bergerak mendekati level US$107 per barel.
Kenaikan harga minyak juga meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan ruang kebijakan moneter global. Lead Investment Analyst Stockbit Edi Chandren menilai eskalasi konflik serta penurunan produksi minyak Arab Saudi dapat memperkuat skenario suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Menurut Edi, kondisi tersebut memberikan tekanan ganda terhadap rupiah dan IHSG. Bursa Asia juga bergerak serentak melemah, dengan Nikkei 225 dan Kospi sempat turun lebih dari 2 persen secara intraday.
Inflasi Produsen AS Memperkuat Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Selain faktor geopolitik, investor mencermati data Producer Price Index (PPI) Amerika Serikat pada Agustus 2026. PPI AS naik 0,4 persen secara bulanan dan tumbuh 5,4 persen secara tahunan.
Pertumbuhan tersebut melampaui perkiraan pasar sebesar 5,3 persen. Kenaikan biaya energi untuk permintaan akhir yang mencapai 4,2 persen secara bulanan turut mendorong tekanan inflasi produsen.
Situasi itu kemudian meningkatkan peluang Federal Reserve menaikkan suku bunga acuan pada September 2026. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas kenaikan suku bunga meningkat ke kisaran 71–72 persen.
Tiga Sektor Saham Menekan Pergerakan IHSG
Tekanan pasar juga terlihat dari sejumlah sektor utama di Bursa Efek Indonesia. MNCS Research mencatat sektor barang baku atau IDX Basic mengalami koreksi 2,48 persen.
Sektor barang konsumen non-primer atau IDX Cyclical juga turun 2,39 persen. Sementara itu, sektor energi atau IDX Energy melemah 2 persen.
Secara teknikal, IHSG kini memasuki fase downtrend dan telah menyentuh target koreksi pertama pada level 6.502. Investor selanjutnya perlu mencermati potensi koreksi berikutnya menuju area 6.448 jika tekanan jual terus berlanjut.
