JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada sesi I perdagangan Kamis, 10 September 2026. Berdasarkan data IDX Mobile pukul 12.05 WIB, IHSG turun 0,14% atau 9,68 poin ke level 6.668,52.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level terendah 6.655,41 dan bergerak hingga posisi tertinggi 6.712,50. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp11.670 triliun.
Pergerakan saham juga menunjukkan tekanan yang cukup kuat. Sebanyak 284 saham menguat, sedangkan 354 saham melemah dan 325 saham lainnya stagnan.
MGNA Memimpin Penguatan Saham pada Sesi I
Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham mampu mencatat kenaikan signifikan. PT Magna Investama Mandiri Tbk. (MGNA) memimpin daftar top gainers dengan kenaikan 34,65% ke Rp136.
Selanjutnya, PT Equity Development Investment Tbk. (GSMF) melonjak 30,43% ke Rp120. PT MNC Tourism Indonesia Tbk. (KPIG) turut menguat 28,79% ke Rp85, sedangkan PT Jembo Cable Company Tbk. (JECC) naik 25% ke Rp825.
PT Santria Antaran Prima Tbk. (SAPX) juga mencatat penguatan 24,54% ke Rp406.
PLAN Memimpin Pelemahan Saham pada Perdagangan Siang
Sebaliknya, beberapa saham mengalami tekanan jual cukup besar. PT Planet Properindo Jaya Tbk. (PLAN) menjadi saham dengan pelemahan terdalam setelah turun 10% ke Rp72.
PT Pool Advista Finance Tbk. (POLA) menyusul dengan penurunan 9,88% ke Rp73. PT Agro Bahari Nusantara Tbk. (UDNG) melemah 9,59% ke Rp660, sementara Batavia IDX30 ETF Index Mutual Fund (XBID) turun 9,41% ke Rp539.
PT Lavender Bina Cendikia Tbk. (BMBL) melengkapi daftar lima saham dengan penurunan terbesar setelah terkoreksi 9,9% ke Rp30.
Reza Diofanda Memproyeksikan IHSG Bergerak Konsolidatif
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memperkirakan IHSG masih bergerak konsolidatif pada kisaran 6.600–6.720. Ia menempatkan level 6.600 sebagai support terdekat dan 6.700 sebagai resistance.
Menurut Reza, IHSG masih berpeluang kembali menguji 6.700 selama indeks mampu mempertahankan level support tersebut. Karena itu, investor akan mencermati pergerakan indeks di sekitar area tersebut.
Selain faktor teknikal, pasar juga menghadapi sejumlah sentimen eksternal dan domestik. Perkembangan perang Iran-AS masih menjadi perhatian investor, terutama karena konflik tersebut dapat memengaruhi harga minyak dan batu bara.
Di sisi lain, investor turut menunggu data penjualan ritel Indonesia Juli yang diperkirakan turun 3,3% secara tahunan. Pasar global juga menantikan data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) Amerika Serikat pada pekan ini untuk memperkirakan arah kebijakan suku bunga The Fed.
