JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung melemah pada pembukaan perdagangan Jumat (11/9/2026). Tekanan jual membawa IHSG turun 1,19 persen atau 78,29 poin ke level 6.511,04 pada pukul 09.01 WIB.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat IHSG sempat menyentuh level terendah 6.507,60 dan bergerak hingga posisi tertinggi 6.552,79. Pada awal perdagangan, sebanyak 385 saham melemah, 106 saham menguat, dan 170 saham stagnan. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai Rp11.421,32 triliun.
Saham Big Caps Menekan Pergerakan IHSG
Sejumlah saham berkapitalisasi besar memberikan tekanan kuat terhadap indeks. DSSA mencatat penurunan terdalam sebesar 2,70 persen ke Rp1.080, kemudian MORA turun 2,35 persen menjadi Rp5.200.
BREN juga melemah 2,12 persen ke Rp3.230. Selanjutnya, BBCA turun 1,95 persen ke Rp6.300, sedangkan BYAN terkoreksi 1,91 persen ke Rp12.850.
Tekanan saham-saham tersebut memperbesar pelemahan IHSG sejak awal sesi. Kondisi itu juga melanjutkan tren negatif perdagangan sebelumnya ketika IHSG berakhir turun 1,33 persen pada Kamis (10/9/2026).
Fanny Suherman Memproyeksikan IHSG Melanjutkan Pelemahan
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman memperkirakan IHSG masih menghadapi tekanan pada perdagangan Jumat. Ia menempatkan area support indeks di 6.530–6.570 dan resistance di 6.600–6.620.
Menurut Fanny, kenaikan harga minyak mentah global menjadi salah satu faktor utama yang menekan pasar. Selain itu, ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Federal Reserve juga meningkatkan kewaspadaan investor.
Fanny menilai kombinasi kenaikan harga minyak dan potensi kenaikan suku bunga The Fed dapat membuat IHSG kembali melemah sepanjang perdagangan.
Investor Asing Melepas Saham Big Caps pada Perdagangan Sebelumnya
Tekanan tersebut mengikuti aksi jual investor asing pada perdagangan Kamis. Investor asing mencatat net sell sekitar Rp748 miliar, dengan BBCA, BBRI, ISAT, INDY, dan CPIN menjadi beberapa saham yang terkena tekanan jual.
Sentimen eksternal turut memperburuk kondisi pasar. Wall Street berakhir di zona merah dengan S&P 500 turun 0,58 persen, Nasdaq melemah 0,65 persen, dan Dow Jones terkoreksi 0,60 persen.
Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun serta lonjakan harga minyak Brent hingga mendekati US$107 per barel ikut meningkatkan kekhawatiran pasar. Gangguan jalur pasokan di Selat Hormuz dan Laut Merah turut mendorong kenaikan harga energi.
Bursa Asia-Pasifik juga menghadapi tekanan serupa karena investor mengantisipasi dampak konflik Timur Tengah dan kenaikan biaya energi terhadap inflasi global.
