JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada perdagangan Jumat, 11 September 2026. Hingga pukul 11.30 WIB, IHSG turun 1,49 persen atau 98,43 poin ke level 6.490,91. Pada awal perdagangan, indeks masih berada di posisi 6.552,49.
Sepanjang sesi berjalan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.552,70 dan kemudian turun hingga titik terendah 6.462,96. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai sekitar Rp11.365 triliun.
Tekanan pasar juga terlihat dari jumlah saham yang melemah. Sebanyak 545 saham turun, sedangkan 141 saham menguat dan 277 saham lainnya bergerak stagnan.
SAPX Memimpin Penguatan Saham pada Perdagangan Jumat
Di tengah tekanan IHSG, sejumlah saham justru mencatat kenaikan signifikan. PT Satria Antaran Prima Tbk. (SAPX) memimpin penguatan setelah harganya melonjak 24,38 persen menjadi Rp505.
PT Magna Investama Mandiri Tbk. (MGNA) menyusul dengan kenaikan 21,32 persen ke Rp165. Selanjutnya, PT Mitra Investindo Tbk. (MITI) menguat 20 persen ke Rp276.
PT Hotel Sahid Jaya International Tbk. (SHID) juga mencatat kenaikan 17,42 persen ke Rp910. Sementara itu, PT Sat Nusapersada Tbk. (PTSN) naik 14,9 persen menjadi Rp340.
XBSK Memimpin Pelemahan Saham pada Sesi I
Sebaliknya, tekanan paling besar datang dari sejumlah saham yang masuk jajaran top losers. Reksa Dana Indeks Batavia SRI-KEHATI ETF Bisnis (XBSK) turun 14,95 persen ke Rp455.
PT Agro Bahari Nusantara Tbk. (XBID) menyusul dengan penurunan 14,56 persen ke Rp446. Setelah itu, PT Equity Development Investment Tbk. (GSMF) melemah 13,71 persen ke Rp107.
PT MNC Sky Vision Tbk. (MSKY) juga turun 10,98 persen menjadi Rp73. Sementara PT Agro Bahari Nusantara Tbk. (UDNG) melengkapi lima saham dengan pelemahan terbesar setelah turun 9,85 persen ke Rp595.
Harga Minyak dan Pelemahan Rupiah Menekan IHSG
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai kenaikan harga minyak mentah dan pelemahan rupiah menjadi dua sentimen utama yang menekan pasar saham domestik. Harga minyak Brent kembali menembus US$102 per barel ketika konflik Amerika Serikat dan Iran semakin memanas.
Pada saat yang sama, rupiah melemah 0,2 persen ke level Rp17.547 per dolar AS. Pelemahan mata uang tersebut turut mencerminkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit APBN akibat kenaikan harga minyak.
Selain sentimen eksternal, indikator teknikal juga menunjukkan peluang koreksi lanjutan. Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan menguji level 6.525. Jika indeks menembus level tersebut ke bawah, IHSG berpotensi melanjutkan penurunan menuju area support 6.460–6.500.
