JAKARTA — Sejumlah emiten telekomunikasi menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) dalam jumlah besar sepanjang 2026. Perusahaan seperti PT Solusi Sinergi Digital Tbk. (WIFI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), dan PT Sarana Menara Nusantara Tbk. (TOWR) mengarahkan investasi tersebut untuk memperluas jaringan serta memperkuat infrastruktur digital.
Langkah tersebut membuka peluang pertumbuhan bisnis. Namun, belanja modal yang besar juga dapat menekan arus kas, terutama bagi perusahaan yang masih agresif memperluas basis pelanggan.
WIFI Mengalokasikan Capex Rp7 Triliun untuk Memperluas Jaringan
Emiten afiliasi Hashim Djojohadikusumo, WIFI, menargetkan capex sekitar Rp7 triliun pada 2026. Perusahaan akan menggunakan anggaran tersebut untuk memperluas jaringan fixed wireless access (FWA) dan Fiber-to-the-home (FTTH).
Direktur Solusi Sinergi Digital Shannedy Ong mengatakan perusahaan akan memprioritaskan ekspansi kedua jaringan tersebut. Sementara itu, Investor Relations WIFI Olivia Simon menyebut perusahaan menargetkan penambahan 5.500 radio dengan biaya sekitar US$30.000 per unit.
WIFI juga menyediakan modem ZTE dengan harga sekitar US$50 per unit. Perangkat tersebut akan mendukung target perusahaan untuk mencapai 3 juta pelanggan.
Selain itu, WIFI menyiapkan sekitar Rp1 triliun untuk ekspansi FTTH melalui anak usaha PT Integrasi Jaringan Ekosistem (IJE). Investasi itu mencakup penambahan sekitar 1,5 juta home pass dan home connect dengan biaya sekitar Rp750.000 per pelanggan.
Perusahaan juga mengalokasikan Rp500 miliar hingga Rp600 miliar untuk fiberisasi menara serta sekitar Rp100 miliar untuk meningkatkan kapasitas dan backbone. Hingga semester I/2026, WIFI baru merealisasikan capex sekitar Rp1 triliun.
Telkom Mengarahkan Capex untuk Memperkuat Infrastruktur Digital
Berbeda dari WIFI, TLKM telah merealisasikan capex Rp10,8 triliun hingga semester I/2026. Nilai tersebut setara dengan 14,2% terhadap pendapatan.
Direktur Utama Telkom Indonesia Dian Siswarini mengatakan lebih dari 94% capex perusahaan mengarah ke bisnis inti B2C dan B2B infrastruktur. Telkom menggunakan investasi tersebut untuk membangun jaringan seluler Telkomsel, jaringan fiber domestik dan internasional, menara, serta data center.
Telkom juga mempertahankan rasio capex terhadap pendapatan pada kisaran 17% hingga 19%. Direktur Telkom Arthur Angelo Syailendra menegaskan perusahaan akan menjaga disiplin biaya dan kualitas pertumbuhan untuk mencapai target 2026.
TOWR Menyiapkan Investasi Rp2,69 Triliun untuk Mengembangkan Bisnis
Sementara itu, TOWR menganggarkan investasi Rp2,69 triliun pada 2026. Anggaran tersebut terdiri atas capex Rp2,01 triliun, akuisisi Rp47 miliar, dan ground lease Rp625 miliar.
Direktur TOWR Hartono Tanuwidjadja mengatakan perusahaan akan menyeimbangkan penggunaan free cash flow untuk mengembangkan bisnis, mengurangi utang, dan memberikan imbal hasil jangka pendek kepada pemegang saham melalui dividen.
Analis Menilai Capex Besar Membawa Peluang dan Risiko Berbeda
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama menilai capex besar belum tentu langsung meningkatkan kinerja keuangan emiten telekomunikasi pada tahun berjalan.
Menurut Elandry, TLKM memiliki bisnis yang matang, pendapatan berulang yang besar, serta arus kas relatif kuat. Karena itu, perusahaan dapat mengarahkan capex untuk memperkuat jaringan, data center, dan monetisasi ekosistem yang sudah terbentuk.
Sebaliknya, WIFI masih menjalankan ekspansi agresif sehingga capex menjadi penggerak utama untuk memperluas cakupan jaringan, home pass, dan jumlah pelanggan. Kondisi tersebut memberi peluang pertumbuhan lebih tinggi, tetapi juga meningkatkan risiko apabila perusahaan gagal mencapai target monetisasi dan utilisasi jaringan.
Dari perspektif investor, Elandry menilai TLKM lebih mencerminkan karakter defensive growth dengan visibilitas arus kas dan ruang dividen yang relatif terjaga. Sementara itu, WIFI menawarkan cerita pertumbuhan tinggi dengan risiko pendanaan dan arus kas yang lebih besar.
Dengan demikian, investor akan lebih memperhatikan efisiensi serta tingkat pengembalian capex TLKM. Pada WIFI, investor akan mencermati kemampuan perusahaan menjalankan ekspansi, menambah pelanggan, dan mengubah investasi jaringan menjadi pertumbuhan laba.
