JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan Kamis, 10 September 2026, dengan tekanan cukup dalam. IHSG turun 1,33% atau 88,86 poin ke level 6.589,33.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG membuka perdagangan di posisi 6.688,17 dan sempat mencapai level tertinggi 6.712,50. Sementara itu, kapitalisasi pasar mencapai Rp11.554,39 triliun.
Tekanan pasar terlihat dari jumlah saham yang melemah. Sebanyak 516 saham turun, sedangkan 150 saham menguat dan 127 saham lainnya bergerak stagnan.
Saham CUAN Menguat 4,79 Persen di Tengah Koreksi IHSG
Di tengah pelemahan indeks, sejumlah saham justru mampu mencatat penguatan. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) naik 4,79% ke level Rp985.
PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) juga menguat 2,19% menjadi Rp3.270. Selain itu, PT United Tractors Tbk. (UNTR) mencatat kenaikan 1,44% ke Rp26.375 per saham.
Saham LQ45 lainnya turut bergerak positif. PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) naik 0,74% ke Rp1.370, sedangkan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) bertambah 0,61% ke Rp3.280.
Saham Bank Besar Menekan Pergerakan IHSG
Sebelumnya, IHSG menutup sesi I dengan penurunan 0,14% ke level 6.669. Saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan, memberikan tekanan terhadap indeks.
Data Mirae Asset Sekuritas menunjukkan BBRI turun 1,5% dan BBCA terkoreksi 1,1% hingga akhir sesi pertama. Kondisi tersebut membuat tekanan jual saham big caps membebani pergerakan IHSG.
Namun, aksi beli pada saham berbasis komoditas dan energi mampu menahan sebagian tekanan. CUAN bahkan sempat melonjak 7,4% pada perdagangan siang.
Selain CUAN, saham TINS menguat hingga 5,9%, ENRG naik 4,1%, dan ANTM bertambah 3,1%. Meski demikian, penguatan saham komoditas belum mampu membalikkan arah IHSG hingga penutupan.
Bursa Asia Ikut Mengalami Tekanan pada Perdagangan Kamis
Pelemahan IHSG juga mengikuti kecenderungan pasar saham kawasan Asia. Mayoritas bursa utama Asia mengalami koreksi pada perdagangan yang sama.
Kondisi tersebut menunjukkan investor menghadapi tekanan sentimen eksternal yang turut memengaruhi pasar domestik. Pergerakan saham komoditas dan energi menjadi salah satu faktor yang menahan penurunan indeks, tetapi belum cukup untuk mengangkat IHSG ke zona positif.
