JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Kamis (10/9/2026) dengan penguatan. IHSG naik 0,29 persen atau 19,45 poin ke level 6.697,75 pada pukul 09.02 WIB.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan 302 saham menguat, sedangkan 143 saham melemah dan 518 saham bergerak stagnan. Pergerakan tersebut mencerminkan sentimen positif yang cukup luas pada awal sesi perdagangan.
Saham CUAN dan AADI Memimpin Penguatan di LQ45
Sejumlah saham berkapitalisasi besar turut menopang kenaikan IHSG. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) memimpin penguatan dengan kenaikan 3,72 persen ke Rp975 per saham.
Selanjutnya, PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI) naik 3,01 persen ke Rp12.825. PT Indosat Tbk. (ISAT) juga menguat 2,92 persen ke Rp2.470.
Selain ketiga saham tersebut, PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) naik 2,21 persen menjadi Rp1.390. PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) bertambah 2,19 persen ke Rp3.270, sementara PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) naik 1,80 persen ke Rp226.
Sejumlah Saham LQ45 Menahan Laju IHSG
Di tengah penguatan mayoritas saham, beberapa emiten masih mencatatkan penurunan. PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (NCKL) turun 1,00 persen ke Rp995, diikuti PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang melemah 0,60 persen ke Rp1.665.
PT Indika Energy Tbk. (INDY) juga turun 0,32 persen menjadi Rp3.110. Sementara itu, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) terkoreksi 0,20 persen ke Rp4.900.
Adapun sejumlah saham bergerak tanpa perubahan harga, termasuk PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP), PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI).
Reza Diofanda Memproyeksikan IHSG Bergerak Konsolidatif
Analis BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda memperkirakan IHSG masih akan bergerak dalam fase konsolidasi pada kisaran 6.600–6.720. Ia menempatkan level 6.600 sebagai support terdekat dan 6.700 sebagai resistance.
Menurut Reza, IHSG masih berpeluang kembali menguji level 6.700 selama indeks mampu bertahan di atas 6.600. Pasar juga akan mencermati perkembangan perang Iran–AS serta pergerakan harga komoditas, terutama minyak dan batu bara.
Selain itu, investor akan memperhatikan data Retail Sales Indonesia Juli yang diperkirakan turun 3,3 persen secara tahunan. Pasar juga menunggu data US Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) untuk membaca arah kebijakan suku bunga Federal Reserve.
