JAKARTA — Indeks Bisnis-27 mengakhiri perdagangan Kamis (10/9/2026) dengan penurunan 1,28 persen ke level 450,52. Meski indeks melemah, sejumlah saham konstituen seperti ANTM dan UNTR tetap mencatat penguatan.
Mengacu pada data IDX Mobile, lima saham konstituen berhasil menguat hingga penutupan perdagangan. ANTM naik 2,19 persen menjadi Rp3.270, sedangkan ASII bertambah 0,41 persen ke Rp4.870.
Selain itu, CPIN menguat 0,61 persen ke Rp3.280. MAPI juga naik 0,74 persen menjadi Rp1.370, sementara UNTR mencatat kenaikan 1,44 persen ke Rp26.375.
Saham Bank Besar Menekan Pergerakan Indeks Bisnis-27
Di sisi lain, tekanan datang dari sejumlah saham berkapitalisasi besar, terutama sektor perbankan. BBCA melemah 1,43 persen ke Rp6.425, sedangkan BBNI turun 0,52 persen menjadi Rp3.800.
Pada saat yang sama, BBRI terkoreksi 2,92 persen ke Rp3.320 dan BMRI turun 0,46 persen ke Rp4.370. Pelemahan saham-saham tersebut ikut menekan kinerja indeks sepanjang perdagangan.
Secara keseluruhan, sebanyak 21 saham konstituen Bisnis-27 melemah, sedangkan lima saham menguat dan satu saham bertahan di posisi stagnan.
IHSG Ikut Melemah Saat Investor Menunggu Data Ekonomi
Pergerakan Bisnis-27 juga mengikuti kondisi pasar saham secara umum. Pada perdagangan yang sama, IHSG turun 1,33 persen atau 88,86 poin ke level 6.589,34.
Pasar mencatat 543 saham melemah, sementara 161 saham menguat dan 259 saham tidak mengalami perubahan. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual yang cukup luas di pasar.
Pelemahan IHSG juga berlanjut setelah indeks turun 0,12 persen ke level 6.678 pada Rabu (9/9). Pada perdagangan sebelumnya, sektor teknologi, barang konsumen primer, dan keuangan menjadi sumber tekanan utama.
Sinarmas Sekuritas Menilai Investor Masih Bersikap Waspada
Tim riset Sinarmas Sekuritas melihat investor masih mengambil sikap wait and see menjelang sejumlah data ekonomi domestik. Salah satu perhatian pasar tertuju pada rilis data consumer confidence Agustus 2026.
Indeks kepercayaan konsumen pada Juli berada di level terendah dalam 15 bulan. Karena itu, pelaku pasar mencermati data terbaru untuk mengukur kekuatan konsumsi domestik dan arah pasar selanjutnya.
Selain itu, kenaikan harga minyak yang mendekati US$100 per barel turut meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global. Kondisi tersebut dapat mempersempit ruang bank sentral global untuk memangkas suku bunga.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor perlu mencermati perkembangan data ekonomi dan harga komoditas sebelum menentukan arah perdagangan berikutnya.
