JAKARTA — Investasi asing menjadi salah satu penggerak penting pertumbuhan ekonomi Indonesia. Selain menambah modal untuk membiayai proyek berskala besar, investasi tersebut turut membuka lapangan kerja, meningkatkan ekspor, mendorong pemerataan ekonomi, dan mempercepat pengembangan teknologi.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan realisasi investasi pada Semester I/2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia, atau meningkat 15 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi Asing Menyerap Ratusan Ribu Tenaga Kerja Lokal
Pada kuartal II/2026, realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun dan menyerap 742.293 tenaga kerja. Jumlah tersebut tumbuh 5,1 persen secara tahunan.
Data itu sekaligus menunjukkan bahwa investasi asing tidak hanya mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri. Proyek investasi juga menciptakan kebutuhan besar terhadap tenaga kerja Indonesia di berbagai sektor.
Investasi Mengalir Lebih Besar ke Luar Jawa
Pemerataan investasi juga menunjukkan perkembangan positif. Pada kuartal II/2026, wilayah luar Jawa menerima investasi Rp256,5 triliun atau 50,1 persen dari total investasi. Sementara itu, Jawa memperoleh Rp255,3 triliun atau 49,9 persen.
Investasi di luar Jawa tumbuh 6,8 persen secara tahunan, sedangkan investasi di Jawa tumbuh 7,5 persen. Maluku Utara bahkan menjadi penerima PMA terbesar dengan nilai Rp39,5 triliun atau 15,3 persen dari total PMA nasional pada periode tersebut.
PMA dan PMDN Menjaga Keseimbangan Investasi Nasional
Komposisi investasi pada kuartal II/2026 juga menunjukkan keseimbangan antara modal asing dan domestik. PMA mencapai Rp257,7 triliun atau 50,4 persen, sedangkan PMDN mencapai Rp254,1 triliun atau 49,6 persen.
PMA sendiri tumbuh 27,47 persen secara tahunan. Hong Kong untuk pertama kalinya dalam satu dekade menjadi negara asal PMA terbesar dengan nilai US$5 miliar, kemudian Singapura, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Kelima negara tersebut menyumbang 79,6 persen dari total investasi asing.
Pemerintah juga menerapkan sistem OSS berbasis risiko serta persyaratan TKDN untuk menjaga agar investasi memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
Investasi Hilirisasi Mendorong Transfer Teknologi
Investasi asing turut mempercepat pengembangan teknologi melalui proyek hilirisasi. Investasi hilirisasi bauksit melonjak 193 persen menjadi Rp40,1 triliun pada kuartal II/2026 dari Rp13,7 triliun pada kuartal sebelumnya.
Proyek Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah bersama MIND ID menjadi salah satu contoh transfer teknologi pengolahan mineral kepada perusahaan Indonesia. Secara keseluruhan, investasi hilirisasi mencapai Rp152,7 triliun atau 29,8 persen dari total investasi nasional pada kuartal II/2026.
Sistem OSS Mempermudah UMKM Mengembangkan Usaha
Pemerintah juga menerapkan sistem OSS berbasis risiko untuk seluruh pelaku usaha, mulai dari UMKM hingga korporasi asing. Sistem tersebut memberikan kemudahan khususnya bagi usaha berisiko rendah.
Produsen makanan ringan, misalnya, dapat mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB) melalui mekanisme yang lebih sederhana. Proses yang sebelumnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga bulan kini dapat selesai dalam tiga hingga tujuh hari kerja.
Dengan demikian, data investasi menunjukkan bahwa modal asing tidak hanya membawa dana ke Indonesia. Investasi juga menciptakan pekerjaan, memperluas aktivitas ekonomi di luar Jawa, mendorong hilirisasi, serta membuka peluang transfer teknologi dan pengembangan usaha lokal.
