JAKARTA — Sejumlah emiten kembali membagikan dividen interim kepada pemegang saham pada pertengahan 2026. Langkah tersebut memberikan sentimen positif, tetapi analis menilai kinerja operasional dan prospek bisnis pada semester II/2026 tetap menentukan arah saham setelah pembagian dividen.
Emiten Membagikan Dividen Interim dari Berbagai Sektor
PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA), PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM), PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG), PT Bank Amar Indonesia Tbk. (AMAR), PT Eastparc Hotel Tbk. (EAST), dan PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) termasuk emiten yang mengumumkan dividen interim.
AKRA menetapkan dividen interim Rp50 per saham atau sekitar Rp1 triliun. Perseroan mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp1,43 triliun hingga Juni 2026.
Sementara itu, SMSM membagikan dividen interim kedua sebesar Rp40 per saham setelah mencatat laba Rp550,98 miliar pada semester I/2026. TAPG menetapkan dividen interim maksimal Rp60 per saham atau sekitar Rp1,19 triliun setelah membukukan pendapatan Rp5,85 triliun.
AMAR membagikan dividen interim Rp3,9 per saham senilai Rp70,25 miliar. EAST juga membagikan dividen interim kedua Rp2 per saham setelah mencatat laba bersih Rp16,95 miliar.
SMDR mempertahankan dividen interim Rp2,5 per saham atau sekitar Rp40,9 miliar. Perusahaan mencatat laba bersih US$32,5 juta pada semester I/2026, meningkat dari US$29,3 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Analis Menilai Kinerja Operasional Menentukan Prospek Saham
Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Wisnubroto menilai dividen interim menunjukkan kemampuan perusahaan menghasilkan kas dan menjaga arus kas operasional.
Rully melihat AKRA, SMDR, dan SMSM memiliki peluang mempertahankan kinerja hingga akhir tahun. Ia juga menilai perusahaan dengan rekam jejak pembayaran dividen yang kuat berpeluang memperoleh valuasi lebih tinggi.
Equity Analyst Indo Premier Sekuritas David Kurniawan menambahkan bahwa kondisi sektor juga akan memengaruhi pergerakan saham. AKRA, TAPG, dan SMDR akan menghadapi pengaruh harga komoditas serta tarif angkutan laut global, sedangkan SMSM, EAST, dan AMAR akan bergantung pada konsumsi domestik, pemulihan pariwisata, dan kualitas penyaluran kredit.
