Saham emiten energi baru terbarukan (EBT) bergerak beragam sepanjang sebulan terakhir hingga penutupan perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026. Saham PT TBS Energi Utama Tbk. (TOBA) dan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk. (PGEO) mencatat kenaikan paling menonjol di tengah perhatian investor terhadap sektor energi hijau.
TOBA memimpin penguatan setelah sahamnya melonjak 42,29% menjadi Rp535 dalam sebulan. PGEO menyusul dengan kenaikan 15,43% ke level Rp1.010, sedangkan PT Kencana Energi Lestari Tbk. (KEEN) naik 8,98% menjadi Rp910.
Sebaliknya, PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) melemah 2,06% ke Rp3.330. PT Arkora Hydro Tbk. (ARKO) juga terkoreksi 5,99% menjadi Rp4.550.
Investor Memilih Emiten EBT dengan Fundamental Kuat
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah Elandry Pratama menilai investor masih memiliki pandangan positif terhadap saham EBT untuk jangka panjang. Tren dekarbonisasi, kebutuhan peningkatan bauran energi, dan komitmen pemerintah terhadap pengembangan energi bersih menjadi sejumlah faktor pendukung.
Namun, investor tetap menghadapi sejumlah risiko dalam jangka pendek. Perubahan kebijakan energi global, suku bunga, biaya pendanaan proyek, serta kepastian regulasi domestik dapat memengaruhi sentimen pasar.
Karena itu, investor kini semakin selektif dan cenderung memberikan premi kepada perusahaan yang memiliki aset produktif, kontrak jangka panjang, arus kas stabil, serta kemampuan melakukan ekspansi tanpa meningkatkan utang secara berlebihan.
PGEO Menjaga Fundamental melalui Bisnis Panas Bumi
PGEO menunjukkan kinerja yang solid sepanjang semester I/2026. Pendapatan perseroan tumbuh 14,73% secara tahunan, sedangkan laba bersih meningkat 15,46%.
PGEO juga mempertahankan struktur keuangan yang relatif sehat dengan debt to equity ratio (DER) sebesar 0,48 kali. Perseroan mencatat return on asset (ROA) 2,68%, return on equity (ROE) 3,97%, serta gross profit margin (GPM) 55,50%.
Elandry menilai PGEO termasuk emiten EBT dengan fundamental paling kuat karena bisnis panas bumi perseroan memperoleh dukungan kontrak jangka panjang. Kondisi tersebut membantu menjaga stabilitas arus kas dan profitabilitas.
BREN dan Emiten EBT Lainnya Menghadapi Tantangan Berbeda
BREN mencatat pertumbuhan pendapatan 20,64% secara tahunan pada kuartal I/2026. Perseroan juga berhasil mempersempit rugi bersih dari US$60,06 juta menjadi US$9,06 juta.
Sementara itu, KEEN mengalami penurunan pendapatan 11,53% dan laba bersih 24,73%. ARKO juga mencatat pendapatan turun 6,68% serta laba bersih merosot 27,74% secara tahunan.
Elandry menilai BREN tetap memiliki prospek menarik berkat portofolio aset energi terbarukan dan peluang ekspansi. Namun, valuasi saham yang relatif premium membuat ekspektasi investor terhadap kinerja perseroan semakin tinggi.
Menurut Elandry, investor sebaiknya menilai pertumbuhan pendapatan, laba bersih, ROA, arus kas operasi, struktur utang, biaya pendanaan, serta kepastian kontrak penjualan listrik atau power purchase agreement (PPA). Analisis tersebut membantu investor menilai apakah pertumbuhan aset benar-benar mampu menghasilkan imbal hasil lebih tinggi.
