konomi Indonesia mencatat pertumbuhan 5,29% secara tahunan pada kuartal II/2026. Angka tersebut melampaui proyeksi pasar sebesar 5,10%, meski pertumbuhan ekonomi melambat dari 5,61% pada kuartal I/2026.
Rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) tersebut langsung menggerakkan pasar keuangan domestik. Pada perdagangan Rabu, 5 Agustus 2026, IHSG menguat 0,74% atau 46,86 poin ke level 6.363,01 pada penutupan sesi I.
Sebanyak 436 saham mencatat kenaikan, sedangkan 179 saham melemah dan 172 saham bergerak stagnan. Penguatan IHSG terutama datang dari sektor barang baku yang naik 2,34%. Sektor kesehatan menyusul dengan kenaikan 1,94%, sementara sektor properti tumbuh 1,84%.
Data PDB Mendorong Rupiah Menguat terhadap Dolar AS
Pasar valuta asing juga merespons positif hasil pertumbuhan ekonomi tersebut. Rupiah menguat 0,57% atau 103 poin ke level Rp17.924 per dolar AS pada perdagangan siang.
BRI Danareksa Sekuritas menilai capaian pertumbuhan ekonomi yang berada di atas ekspektasi menunjukkan fundamental domestik masih cukup solid. Namun, perlambatan dari kuartal sebelumnya mencerminkan proses normalisasi aktivitas ekonomi.
Pertumbuhan 5,29% pada kuartal II/2026 juga menjadi laju tahunan terendah sejak kuartal III/2025. Kendati demikian, realisasi tersebut tetap berhasil melampaui konsensus pasar.
BPS Mencatat PDB Tumbuh 3,73 Persen secara Kuartalan
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud mencatat PDB atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.552,1 triliun pada kuartal II/2026. Sementara itu, PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp3.576,2 triliun.
Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 3,73% dibandingkan kuartal I/2026. Secara kumulatif, ekonomi nasional tumbuh 5,45% sepanjang semester I/2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dengan hasil tersebut, pasar mendapat sinyal bahwa ekonomi domestik masih mempertahankan pertumbuhan di atas 5%. Investor kemudian merespons capaian tersebut melalui penguatan IHSG dan rupiah.
