JAKARTA — Investor asing kembali memburu sejumlah saham berkapitalisasi besar menjelang pengumuman pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2026. Saham perbankan, terutama PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), menjadi sasaran utama aksi beli.
Aksi tersebut turut menopang penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Selasa, 4 Agustus 2026. IHSG mengakhiri perdagangan dengan kenaikan 1,37% atau 85,11 poin ke level 6.319,61.
Investor Asing Mengakumulasi Saham Perbankan dan Big Caps
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) dan RTI menunjukkan IHSG bergerak dalam rentang 6.238 hingga 6.319 sepanjang perdagangan. Sebanyak 420 saham berhasil menguat, sedangkan 234 saham melemah dan 309 saham lainnya stagnan.
Investor asing mencatatkan pembelian bersih atau net buy sebesar Rp623,48 miliar pada perdagangan tersebut. Kendati demikian, secara year-to-date (YtD), investor asing masih membukukan net sell sebesar Rp72,07 triliun.
BBCA menjadi saham dengan nilai net buy asing terbesar. Investor asing mencatatkan pembelian bersih BBCA senilai Rp404,4 miliar.
Investor asing kemudian memburu saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) dengan net buy Rp129,9 miliar. Di posisi berikutnya terdapat BBRI dengan pembelian bersih Rp116,1 miliar.
Investor Asing Memburu Saham MDKA hingga TLKM
Selain sektor perbankan, investor asing juga mengakumulasi sejumlah saham unggulan dari berbagai sektor.
PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) mencatat net buy asing sebesar Rp101,2 miliar. Selanjutnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) memperoleh pembelian bersih Rp94,1 miliar.
Investor asing juga membukukan net buy pada PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp59,9 miliar. Berikutnya terdapat PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) dengan Rp59,7 miliar dan PT Timah Tbk. (TINS) sebesar Rp59,2 miliar.
Sementara itu, saham PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) mencatatkan net buy asing Rp45,2 miliar. PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) melengkapi daftar 10 saham dengan net buy asing terbesar melalui transaksi senilai Rp36,9 miliar.
Pasar Menanti Data Pertumbuhan Ekonomi Kuartal II 2026
Pergerakan IHSG yang menguat tidak terlepas dari perhatian investor terhadap rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II 2026.
Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan data pertumbuhan ekonomi tersebut pada Rabu, 5 Agustus 2026. Konsensus pasar memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh sekitar 5,3% secara tahunan atau year-on-year (YoY).
Proyeksi tersebut menunjukkan perlambatan dibandingkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 yang mencapai 5,61% YoY.
Meski demikian, perlambatan ekonomi belum sepenuhnya menghilangkan optimisme pelaku pasar terhadap prospek saham domestik. Sejumlah katalis positif masih menjadi perhatian investor.
Penurunan Harga BBM Menjadi Sentimen Positif Pasar
Phintraco Sekuritas menilai penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang berlaku sejak 1 Agustus 2026 berpotensi memberikan dukungan terhadap perekonomian.
Penurunan harga BBM tersebut diperkirakan dapat membantu mengendalikan tekanan inflasi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat dalam beberapa bulan ke depan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang dapat memberikan sentimen positif bagi pasar saham ketika investor mencermati prospek pertumbuhan ekonomi nasional.
Ketegangan Timur Tengah Tetap Membayangi Pasar
Dari sisi global, investor masih memperhatikan perkembangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar.
Perkembangan geopolitik tersebut turut memicu perhatian terhadap pergerakan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi dapat memengaruhi prospek inflasi serta kebijakan ekonomi di berbagai negara.
Dengan berbagai sentimen tersebut, investor akan mencermati respons pasar setelah data pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 diumumkan.
10 Saham dengan Net Buy Asing Terbesar pada 4 Agustus 2026
BBCA mencatat net buy asing Rp404,4 miliar.
BMRI mencatat net buy asing Rp129,9 miliar.
BBRI mencatat net buy asing Rp116,1 miliar.
MDKA mencatat net buy asing Rp101,2 miliar.
BBNI mencatat net buy asing Rp94,1 miliar.
TLKM mencatat net buy asing Rp59,9 miliar.
BRPT mencatat net buy asing Rp59,7 miliar.
TINS mencatat net buy asing Rp59,2 miliar.
ERAA mencatat net buy asing Rp45,2 miliar.
GGRM mencatat net buy asing Rp36,9 miliar.
Disclaimer: Informasi ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham. Setiap keputusan investasi menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca.
